Alaku
Alaku
Alaku Alaku Alaku

RUANG LITERASI, BUNG WILLY DAN GEN Z YANG MENOLAK DUNGU oleh Agustam Rachman

*RUANG LITERASI, BUNG WILLY DAN GEN Z YANG MENOLAK DUNGU*

 

Alaku

Oleh : AGUSTAM RACHMAN, MAPS. Penulis menetap di Yogyakarta.

 

 

Selasa, 22 September 2026 tepat pukul 13.00 saya tiba di Ruang Literasi Kaliurang yang terletak di Padukuhan Penen, Bondosari, Harjobinangun, Pakem Sleman. Di halamannya puluhan motor berjejer rapi.

 

“Wah ramai juga ya pengunjungnya”, batin saya. Lalu bergegas saya menghampiri dua pria berkacamata di teras samping, saya menanyakan dimana perpustakaannya.

 

Seseorang (yang kemudian saya ketahui bernama Farraz) dengan logat bukan Jawa mengantar saya ke dalam perpustakaan. Langkah saya melambat karena membaca tulisan “Pustaka Angku Navis” di atas pintu masuk.

 

“Nama itu diambil Pak Willy (Willy Aditya pemilik dan pendiri Ruang Literasi) dari nama A.A Navis sastrawan terkenal asal Minang Kabau”, demikian Farraz menerangkan. Saya langsung ingat dengan “Sang Pencemooh” itu (demikian julukannya karena karyanya banyak berisi sindiran dan kritik) diantaranya berjudul Robohnya Surau Kami.

 

“Siapa saja teman Bung Willy yang pernah kesini” ? tanya saya sambil mengisi data pengunjung. “Minggu lalu ada Pak Toni dkk dari Bandung menginap disini tapi mendadak pulang lebih cepat dari rencana semula” ujar Farraz.

 

Kalau yang dimaksudnya Toni itu adalah Bung Toni Permana wajar dia tidak menghubungi saya mungkin dia mendadak ada pekerjaan yang harus diselesaikan di Bandung sana. Terakhir lewat pesan WA saya sampaikan ke dia kalau ke Yogya kami janjian mau ziarah ke makam “Kawan Yoko” di Gunung Kidul.

 

Sudah lama sebenarnya saya ingin ke Ruang Literasi. Saya dengar koleksi bukunya ribuan. “Ada 12.531 buku disini, pengunjung boleh mengusulkan ke kami buku apa yang bagus untuk dijadikan koleksi perpustakaan nanti kami akan mempertimbangkannya untuk dibeli waktu belanja buku. Kami juga menerima sumbangan buku. Nanti testimoni penyumbang akan kami upload di media sosial kami” panjang lebar Farraz menjelaskan.

 

Di lantai dua perpustakaan saya disambut dengan lukisan berjudul IQRA berisi 21 tokoh besar yaitu Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, Tan Malaka, Rohana Kudus, Sigmund Freud, Plato, Albert Einstein, Karl Marx, Adam Smith, Sartre, HOS Cokroaminoto, Rahma El Yunusiyah, Mohammad Sjafei, Kahlil Gibran, Dewi Sartika, Pramudya, Paulo Freire, Hannah Arendt, Rosa Luxemburg, Bertold Brecht

Dari ‘baunya’ saya tahu ini lukisan Bung Yayak Yatmaka yang juga akrab disapa Yayak Kencrit.

 

Bung Yayak merupakan pelukis kiri yang pernah terpaksa menetap lama di Jerman karena jadi buronan rejim orba. Pasalnya tahun 1991 dia membuat lukisan berjudul Tanah Untuk Rakyat yang berisi sosok Soeharto memangku perempuan cantik dan istrinya Tien Soeharto dilukis sedang main golf memakai bikini.

 

Oya sebagian besar buku di sini merupakan koleksi pribadi Bung Willy sejak kuliah di Filsafat UGM. Cerita soal buku yang banyak begini, saya tak begitu terkejut karena aktifis yang berasal dari Minang Kabau pada umumnya menjadikan buku sebagai “teman hidup” selain istri atau suaminya. Contohnya perpustakaan Fadli Zon di Benhil Jakarta Pusat koleksinya lebih dari 50 ribu buku. Bahkan lebih hebat lagi ketika Bung Hatta tiba di Boven Digul Papua tanggal 28 Januari 1935 karena dibuang Belanda, dia membawa 10 peti buku koleksinya.

 

Dari Farraz saya tahu bahwa di bangunan dua lantai ini terdapat juga perpustakaan anak-anak namanya Pustaka Anak Rakyat, ada studio podcast Rohana Kudus, ada ‘Bookkopi’ kedai kopi yang sangat terjangkau bagi kantong mahasiswa. Uniknya nama-nama minuman menggunakan istilah di dunia buku misalnya Prolog (aren latte) atau surat pertama (black tea). Ada juga Joglo kapasitas 50 orang dapat digunakan sebagai tempat kegiatan seperti diskusi dan itu gratis.

 

Ada yang berbeda tiap Sabtu-Minggu selain pengunjung lebih ramai juga ada program gratis belajar tahfiz dan bahasa Inggris untuk umum, perpustakaan buka sampai pukul 22.00 WIB, kalau hari lain hanya sampai pukul 21.00 WIB.

 

Pukul 14.40 WIB saat hendak pulang, di parkiran secara tak sengaja saya bertemu dengan Vena, Nanas dan Talita ketiganya gen Z yang sedang kuliah di MMTC Yogya. mereka sejak pagi di perpustakaan. “Tak banyak Gen Z yang menolak dungu seperti mereka” dalam hati saya membatin.

 

Tulisan ini dirilis di Media DJO. Minggu (27/9/26)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *