*KALIMANTAN DIBAKAR, NEGARA KEMANA? RAKYAT SESAK, ORANG UTAN SAKIT AKIBAT MENGHIRUP ASAP*
*Oleh: Syarfani*
Kaperwil Media Darahjuang.online Kalimantan Selatan
Bumi Kalimantan sedang berduka. Bukan hanya Kalsel. Bukan hanya Batola. Dari Pontianak sampai Samarinda, dari Palangka Raya sampai Tanjung Selor, dari Banjarmasin sampai ke perbatasan Malaysia, seluruh pulau ini sedang dibakar.
Langit Kalimantan yang dulu jadi kebanggaan sebagai paru-paru dunia, kini jadi neraka asap terbesar di Asia Tenggara.
Yang menderita bukan cuma warga Kalsel. Saudara kita di Kalbar sesak napas, di Kalteng sekolah tutup berminggu-minggu, di Kaltim penerbangan dibatalkan, di Kaltara dan Kalsel petani dan nelayan kehilangan mata pencaharian. Lima provinsi, satu penderitaan yang sama: kita dipaksa menghirup racun dari hutan kita sendiri yang dibakar.
Dan di balik asap itu, ada pembantaian yang sunyi.
Hutan Kalimantan adalah rumah terakhir bagi Orang Utan Kalimantan, Bekantan, Beruang Madu, Owa, dan ribuan satwa endemik yang tidak ada di tempat lain di dunia. Hari ini mereka dibakar hidup-hidup. Induk Orang Utan di Kalteng dan Kalbar ditemukan mati memeluk anaknya yang sudah jadi arang. Bekantan lari ke pemukiman. Monyet-monyet menjerit kelaparan karena buah hutan habis terbakar.
Ini bukan bencana. Ini GENOSIDA EKOLOGIS.
Dan ini terjadi di seluruh Kalimantan karena satu hal: *PEMERINTAH GAGAL TOTAL.*
Pemerintah Pusat di Jakarta hanya melihat Kalimantan sebagai kebun uang: sawit, tambang batu bara, dan kayu. Izin konsesi diobral dari Kalbar sampai Kaltim tanpa peduli itu lahan gambut yang mudah terbakar.
Pemprov dan Pemkab se-Kalimantan sibuk dengan apel siaga karhutla, tapi faktanya?
*Anggaran karhutla triliunan rupiah setiap tahun untuk seluruh Kalimantan itu kemana?*
Kenapa hotspot yang sama muncul terus di Mempawah Kalbar, di Pulang Pisau Kalteng, di Kutai Kaltim, di Barito Kuala Kalsel? Artinya tidak ada pencegahan sama sekali!
*Hukum?*
Berapa korporasi raksasa di Kalimantan yang izinnya dicabut karena membakar? NOL. Yang masuk bui hanya petani Dayak dan Banjar kecil yang membakar setengah hektar. Sementara perusahaan yang membakar ribuan hektar di Kalteng dan Kalbar hanya kena sanksi administratif, lalu beroperasi lagi.
Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas, terjadi di seluruh Pulau Kalimantan.
Cukup sudah jargon “Kalimantan Siaga Api”. Rakyat Kalimantan sudah muak dengan baliho dan spanduk.
Kami, warga Kalimantan dari 5 provinsi, menuntut:
1. Audit total izin lahan gambut dan sawit se-Kalimantan. Cabut dan pidanakan korporasi pembakar, jangan tebang pilih.
2. Bentuk Badan Khusus Penanganan Karhutla Kalimantan, bukan satgas musiman yang muncul saat api sudah besar.
3. Selamatkan Satwa Kalimantan. Buat koridor evakuasi satwa liar di 5 provinsi, bukan hanya di Tanjung Puting.
Kalimantan adalah paru-paru dunia, tapi hari ini paru-paru itu sedang dibakar oleh keserakahan dan dibiarkan oleh negara.
Jika Pemerintah Pusat, 5 Gubernur, dan puluhan Bupati/Walikota se-Kalimantan tidak mampu menjaga hutan ini, maka sejarah akan mencatat: Kalian adalah generasi yang membakar Borneo untuk anak cucu kalian sendiri.
Jangan wariskan abu kepada anak cucu kita.
Karena setiap jengkal hutan Kalimantan yang terbakar, adalah bukti kegagalan negara menjaga rumahnya sendiri.
Opini dirilis pada media DJO (Darahjuang.online), Rabu, 14 Oktober 2026.


















