Tema besar yang mengisahkan hidup Masyarakat Adat di kampung ini dikemas dalam film dokumenter yang menarik untuk ditonton. Ada ratusan orang yang menonton FFP, bahkan di hari terakhir penontonnya mencapai 1.000 orang lebih.
Irene mengatakan Papuan Voices menyadari bahwa penguatan kapasitas untuk anggotanya dan sineas muda Papua perlu ditingkatkan. Karena itu, pada pagelaran FFP VI lebih fokus pada kegiatan workshop, nonton dan diskusi film documenter sebagai wadah untuk meningkatkan kesadaran dan kepercayaan terhadap identitas.
Rangkaian kegiatan FFP VI dilaksanakan pada 7 – 9 Agustus 2023 di Gedung St. Nicholaus Duta Damai Padang Bulan Kota Jayapura.
Ia berharap acara FFP yang sudah berlangsung sejak 2017 ini bisa berlanjut di tahun depan dan dapat menarik antusias penonton lebih banyak lagi.Panitia Bidang Pemutaran Film, Fransiska Manan menyebut ada sebanyak 40 judul film yang diputar dalam acara Festival Film Papua. Film-film tersebut selain diproduksi oleh Papuan Voices, juga ada yang dikurasi dari berbagai Filmaker.
“Semua filmnya bagus-bagus,” katanya singkat.
Karya Anak Muda Papua
Ketua Umum Papuan Voices Harun Rumbarar menyatakan Festival Film Papua yang telah menjadi agenda tahunan sejak 2017 ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk menampilkan karya-karya anak muda Papua.
Harun menyatakan generasi muda Papua yang juga bagian dari Masyarakat Adat dalam mempertahankan warisan tradisi di tengah perkembangan zaman ini, selalu berusaha membangun kesadaran kolektif kaum muda akan jati dirinya.
Karenanya untuk menjawab hal ini, sebut Harun, Papuan Voices menjadikan momen FFP ini menjadi salah satu wadah bagi kaum muda Papua untuk melihat dirinya, menggali dan memperkuat identitasnya.
“Tak berlebihan jika kami bercita-cita, melalui FFP ini cerita-cerita tentang tanah Papua terdengar hingga sampai ke seantero nusantara, bahkan yang lebih luas,” katanya sembari menambahkan kegiatan FFP ini bertujuan untuk menampung semangat anak muda Papua sekaligus meneruskan suara Masyarakat Adat dari kampung-kampung di tanah Papua.
Sikap Papuan Voices
Harun menjelaskan sudah banyak produk film Masyarakat Adat yang dihasilkan oleh Papuan Voices dalam kegiatan FFP. Untuk itu, Papuan Voices memandang penting untuk menyampaikan pernyataan sikap terkait kondisi yang hari ini dialami oleh Masyarakat Adat.
“Kami Papuan Voices tetap mendukung perjuangan Masyarakat Adat yang hari ini masih terbelenggu oleh kepentingan negara yang mengatasnamakan pembangunan di Wilayah Adat,” tandasnya.
Harun mengatakan Papuan Voices juga mendukung perjuangan Masyarakat Adat Papua untuk merebut kembali tanah adat mereka yang telah dirampas oleh investor dan pemerintah. Kemudian, mereka juga mendukung perjuangan Masyarakat Adat Papua yang hari ini menolak segala bentuk pembangunan di atas tanah leluhur mereka.
Ia menyebut Masyarakat Adat di Suku Moi, Masyarakat Adat Lembah Grime Nama, Masyarak Adat di Keerom, Masyarakat Adat di Boven Diguel, Masyarakat Adat di Wamena, semuanya hari ini berjuang mempertahankan tanah adat mereka dari cengkraman penguasa dan pengusaha.
“Hentikan segala tindak perampasan tanah adat di Papua dan stop kriminalisasi dan intimidasi terhadap Masyarakat Adat,” katanya. (Rls/01)


















