Banjar, Darahjuang.online – Kepala Lapas (Kalapas) Narkotika Kelas IIA Karang Intan, Yugo Indra Wicaksi, mulai mendorong berbagai program pembinaan kemandirian bagi warga binaan. Salah satu program yang kini dijalankan adalah produksi tempe di dalam lingkungan lapas, yang tidak hanya bertujuan sebagai kegiatan produktif, tetapi juga sebagai bekal keterampilan setelah bebas nanti.
Dalam wawancara yang berlangsung di ruang Kalapas, Kamis (23/04/2026), Yugo menjelaskan bahwa ide pengolahan tempe muncul sebagai langkah strategis untuk memberikan keterampilan praktis kepada warga binaan.
“Iya, jadi produksi tempe kami buat yang pertama untuk menambah ilmu bagi warga binaan. Begitu mereka bebas, bisa menjadi wirausaha dengan memproduksi tempe,” ujarnya.
Menurutnya, produksi tempe ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal, tetapi juga memiliki potensi ekonomi. Saat ini, hasil produksi telah digunakan untuk konsumsi warga binaan dan pegawai, serta mulai diarahkan untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
“Tempe ini ternyata bisa kami perjualbelikan; yang pertama untuk konsumsi warga sendiri, kemudian untuk pegawai. Dan kami juga sedang mencari pasar agar bisa dipasarkan keluar dari lapas,” imbuhnya.
Dalam proses produksi, saat ini terdapat sekitar delapan warga binaan yang dilibatkan secara aktif. Namun, jumlah tersebut berpotensi bertambah seiring meningkatnya permintaan.
“Saat sekarang ada sekitar delapan orang pekerja. Tetapi kalau nanti ada pihak yang menerima produk tempe dari lapas, kami akan menambah pekerja lagi dari warga binaan,” terangnya.
Ia menegaskan, program ini membawa manfaat ganda bagi warga binaan. Selain memperoleh keterampilan, mereka juga mendapatkan premi dari hasil produksi yang dilakukan.
“Alhamdulillah sangat bermanfaat bagi mereka. Pertama mendapatkan premi dari hasil penjualan, yang kedua mendapatkan ilmu. Sehingga begitu mereka bebas diharapkan tidak lagi mengulangi penyalahgunaan narkoba, tetapi bisa menjadi produsen tempe,” ungkapnya.
Meski demikian, Yugo mengakui bahwa pemasaran produk ke luar lapas masih menjadi tantangan. Keterbatasan jumlah petugas menjadi salah satu kendala utama dalam distribusi.
“Kita sudah coba untuk memasarkan keluar, tetapi karena keterbatasan petugas, sementara warga binaan tidak memungkinkan untuk keluar, jadi saat ini masih fokus untuk kebutuhan internal,” terangnya.
Untuk bahan baku, pihak lapas bekerja sama dengan petugas yang membidangi kegiatan kerja, yang bertugas menyediakan kebutuhan produksi dari luar.
“Bahan-bahannya kami datangkan dari luar, diupayakan oleh petugas seperti Kasi Kegiatan Kerja, Bimbingan Kerja, dan Kasubsi Sarana Kerja. Setelah itu kita olah di dalam lapas,” jelasnya.
Ia juga memastikan kualitas produk tetap terjaga dengan baik.
“Hasilnya tempenya bagus, tanpa campuran bahan lain,” pungkasnya.
Program ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membentuk kemandirian ekonomi warga binaan sekaligus mendukung proses reintegrasi sosial yang lebih baik setelah mereka kembali ke masyarakat.(14).
Inovasi Kalapas Narkotika Karang Intan Dorong Kemandirian Warga Binaan Lewat Produksi Tempe
















