Alaku
Alaku
Alaku Alaku

Kesbangpol Banjarmasin Gandeng Ormas, GEPPAK Tekankan Pentingnya Menjaga Warisan Budaya

Banjarmasin, Darahjuang.online – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Banjarmasin menggelar Sosialisasi Kewaspadaan Dini Daerah sebagai bagian dari Program Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Tahun Anggaran 2026. Kegiatan Angkatan I tersebut berlangsung di Hotel Victoria River View, Banjarmasin, Rabu (1/7/2026), dengan melibatkan berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kota Banjarmasin.

Peserta kegiatan berasal dari beragam unsur masyarakat, mulai dari ormas pendidikan, wanita, budaya, disabilitas, etnis, keagamaan, kemanusiaan, profesi, Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), organisasi sosial kemasyarakatan, para Ketua RT, hingga perwakilan Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK).

Dalam kegiatan tersebut, Ketua DPC Gerakan Putra Putri Asli Kalimantan (GEPPAK) Kota Banjarmasin, Dedi Prisandi, menilai kewaspadaan dini tidak hanya berkaitan dengan upaya mengantisipasi potensi konflik sosial, tetapi juga mencakup upaya menjaga identitas budaya sebagai bagian penting dalam memperkuat persatuan bangsa.

“Kita harus menggali kembali, mendokumentasikan, dan merevitalisasi ragam seni budaya yang hampir punah sebagai bagian dari menyongsong Indonesia Emas. Kalau tidak dimulai sekarang, dikhawatirkan banyak warisan budaya yang akan hilang ditelan zaman,” ujar Dedi saat diwawancarai, Minggu (5/7/2026).

Menurutnya, regenerasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan seni dan budaya daerah. Ia menekankan perlunya pembinaan yang berkesinambungan kepada generasi muda agar nilai-nilai budaya tidak terputus oleh perkembangan zaman.

“Kami ingin membina generasi putra-putri Banjarmasin melalui pelatihan yang intensif agar terjadi transfer ilmu dari para maestro seni kepada generasi penerus. Dengan begitu, seni budaya daerah tidak berhenti pada satu generasi saja,” katanya.

Dedi juga menilai kesenian tradisional harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat modern tanpa menghilangkan nilai-nilai yang menjadi identitas budaya.

“Pertunjukan seni budaya tradisional harus mampu beradaptasi dengan teknologi, tata panggung, dan manajemen modern. Namun, adaptasi itu jangan sampai menghilangkan nilai asli budaya yang menjadi identitas daerah,” tegasnya.

Selain itu, ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian budaya melalui dunia pendidikan dengan memasukkan seni budaya lokal sebagai bagian dari muatan lokal di sekolah.

“Pendidikan menjadi media yang sangat penting untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya lokal. Kami berharap seni budaya daerah dapat menjadi bagian dari kurikulum muatan lokal di sekolah,” ucapnya.

Tak hanya itu, Dedi juga mendorong adanya dukungan konkret bagi para pelaku seni melalui penyelenggaraan festival budaya secara rutin serta penyediaan ruang publik sebagai wadah berekspresi dan berkarya.

“Pelaku seni membutuhkan panggung untuk berkarya. Dengan adanya festival dan ruang publik yang rutin, seni budaya akan terus hidup sekaligus menjadi daya tarik wisata dan menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Dedi, promosi budaya daerah juga perlu diperluas agar mampu dikenal di tingkat nasional hingga internasional sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.

“Harapan kami, kekayaan seni dan budaya Banjarmasin tidak hanya dikenal di daerah sendiri, tetapi juga menjadi kebanggaan Indonesia di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.(14).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *