*Ketua KPA Rafflesia Utara Bengkulu Ikuti Conservation Camp Swara Rimbo Pasisia 2026 di Pulau Mandeh*
PESISIR SELATAN, SUMATERA BARAT, Darahjuang.online — Di balik indahnya panorama Kawasan Wisata Terpadu Mandeh, Nagari Pulau Karam, Kabupaten Pesisir Selatan, tersimpan tantangan serius akibat perubahan iklim. Abrasi pantai yang terus meluas, hilangnya vegetasi pelindung alami, hingga kerentanan ekonomi masyarakat pesisir menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus segera dijawab.
Merespons kondisi tersebut, warga Pulau Karam bersama Sumatra Wild Adventure (SWA) dan jaringan mitra menggelar *Conservation Camp Swara Rimbo Pasisia 2026* dengan tema “Gerakan Kolaboratif untuk Restorasi Kawasan Pesisir, Penguatan Ekonomi Hijau, dan Wisata Berkelanjutan” pada 17–19 Juli 2026 di Pantai Muaro Bantiang. Kegiatan ini menjadi ruang pertemuan penting antara konservasi ekosistem, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan penguatan kapasitas generasi muda.
Salah satu program unggulan dalam camp ini adalah mengubah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi. Melalui pelatihan intensif, Kelompok Wanita Tani (KWT), kader PKK, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan pemuda dilatih mengolah buah nipah Nypa fruticans menjadi berbagai produk UMKM. Mulai dari makanan olahan, minuman, hingga kerajinan tangan. Tumbuhan nipah yang sebelumnya hanya tumbuh liar di pesisir, kini bertransformasi menjadi sumber penghidupan baru bagi masyarakat.
Novi Fani Rovika, Founder SWA, menegaskan bahwa keterlibatan perempuan menjadi kunci keberhasilan program ini. “Krisis iklim itu terasa jauh bagi sebagian orang, padahal dampaknya sudah di depan mata. Antusiasme kelompok ibu-ibu di sini luar biasa. Mereka menjadi benteng utama dan motor penggerak perbaikan UMKM di daerah ini,” ujar Fani.
Menurutnya, penguatan ekonomi berbasis potensi pesisir juga menjadi upaya strategis untuk melestarikan tradisi lokal yang mulai luntur. Salah satunya tradisi “mamuke”, yaitu menangkap ikan dengan pukat tepi secara tradisional dan ramah lingkungan. Tradisi ini tidak hanya menjaga keberlanjutan stok ikan, tetapi juga menjadi identitas budaya masyarakat pesisir.
Data lapangan dari tim SWA menunjukkan kondisi ekologis Pulau Karam cukup memprihatinkan. Abrasi telah mengikis garis pantai dan merusak vegetasi pelindung alami seperti cemara laut Casuarina equisetifolia. Selain itu, habitat peneluran penyu di Pantai Muaro juga terancam akibat pencurian telur secara liar. Jika tidak segera ditangani, kerusakan ini akan berdampak langsung pada mata pencaharian warga yang sebagian besar masih bergantung pada laut.
Afwan, PIC Conservation Camp Swara Rimbo Pasisia 2026, menjelaskan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang untuk mengintegrasikan dua agenda besar: pemulihan ekosistem dan penguatan ekonomi masyarakat. “Restorasi ini mendesak dilakukan karena Nagari Pulau Karam mengalami abrasi yang cukup signifikan. Berdasarkan data yang kami himpun, bahkan 20 persen garis pantainya sudah hilang,” kata Afwan.
Ia menambahkan, pergeseran mata pencaharian sebagian nelayan menjadi operator wisata di Kawasan Mandeh juga menimbulkan kerentanan baru. “Ada ancaman abrasi dan deforestasi mangrove yang cukup luas, yang berkelindan dengan faktor kerentanan ekonomi. Ketika lingkungan rusak, maka pendapatan masyarakat langsung terdampak. Karena itu solusinya harus dua arah,” jelas Afwan.
Sebagai aksi nyata, *Conservation Camp Swara Rimbo Pasisia 2026* menanam 350 bibit mangrove bersama warga, pemuda, dan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Penanaman ini tidak hanya berfokus p langsung fungsi mangrove sebagai pelindung pantai dari abrasi, penyerap karbon, dan habitat bagi biota laut.
Di sisi lain, penguatan UMKM menjadi jembatan penting agar konservasi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Dengan adanya produk turunan nipah, masyarakat memiliki insentif ekonomi untuk menjaga kelestarian ekosistem pesisir. Model ini diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan dan kerusakan lingkungan yang kerap terjadi di wilayah pesisir Indonesia.
Keterlibatan generasi muda menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini. Diko Okta Siswandra, Ketua KPA Rafflesia Utara Provinsi Bengkulu, menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan. “Menjaga alam bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban moral yang harus dituntaskan hari ini. Setiap jengkal daratan dan lautan yang dibiarkan rusak adalah utang ekologis yang kelak harus dibayar mahal oleh generasi penerus,” tegas Diko.
Baginya, *Conservation Camp Swara Rimbo Pasisia* bukan sekadar kegiatan menanam pohon. Ini adalah ruang belajar, bertukar ide, dan membangun jejaring aksi iklim dari tingkat akar rumput. Pengalaman dan ilmu yang didapat di Mandeh ini juga menjadi bekal penting untuk dibawa pulang dan diimplementasikan di wilayah pesisir Provinsi Bengkulu, khususnya melalui gerakan KPA Rafflesia Utara.
Kegiatan ini terlaksana atas kolaborasi Wahid Foundation, Temasek Foundation, Harmony in Action, SWA, Suara Rimba Pasisir, dan CHEJ_. Melalui gerakan berkelanjutan “Suara Rimba Pasisir”, para pihak berharap model pemberdayaan di Pulau Karam bisa menjadi contoh dan direplikasi di wilayah pesisir lain di Indonesia.
*Conservation Camp Swara Rimbo Pasisia 2026* membuktikan satu hal penting, bahwa menjaga mangrove tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga manusia. Ketika ekosistem pulih dan ekonomi masyarakat menguat, maka keberlanjutan Mandeh dan pesisir Indonesia secara keseluruhan akan lebih terjamin. (Rls/01)

















