Sahabat Cita Khatulistiwa Kenalkan teknik olah suara kepada ratusan pelajar, mahasiswa hingga Sekolah Luar Biasa
Nasional, Darahjuang.online — Olah vokal atau sering disebut voice over adalah teknik produksi suara di mana suara narator atau pengisi suara direkam dan dimasukkan ke dalam media visual (seperti video, iklan, atau animasi) tanpa memperlihatkan sosok pembicaranya secara langsung
Voice over (alih suara) juga digunakan untuk menyampaikan pesan dalam berbagai media, seperti iklan, video, film dokumenter, hingga audiobook. Dalam praktiknya, pengisi suara tidak muncul di layar, tetapi suaranya menjadi elemen utama dalam menyampaikan informasi dan emosi.
Beberapa waktu lalu tepatnya pada 15 September 2026, Komunitas literasi yang berbasis di Kabupaten Ketapang mengenalkan teknik olah vokal kepada 100 peserta dari kalangan anak muda.
Ketua Komunitas literasi Sahabat Cita Khatulistiwa menerangkan bahwa kegemaran dalam menguasai olah vokal semakin digandrungi anak muda terutama generasi Z yang sangat lekat dan melek dengan teknologi, ujarnya kepada media massa (22/10).
Marlina meneruskan bahwa banyak hal yang membuat generasi Z tertarik dengan teknik olah vokal dan sangat dipengaruhi dalam meningkatkan daya tarik konten audiovisual seperti tiktok dan instagram. Selain itu, olah vokal membangun kedekatan emosional dengan penggunaan suara yang santai, akrab sehingga membuat generasi Z memiliki inspirasi baru dalam menyalurkan kreatifitas dan sebagai sebuah gaya hidup kekinian, terangnya.
Menurut Marlina, voice over adalah kemampuan yang bisa dijadikan profesi bagi generasi Z untuk melatih konsistensi dan kemampuan. Lokakarya alih suara pada festival literasi inklusif yang diselenggarakan pada waktu lalu merupakan forum yang mempertemukan praktisi voice over dan peserta dari berbagai kalangan untuk mewariskan pengetahuan.
“Peserta juga diberi ruang untuk melakukan praktek terbuka dengan dilakukan pembimbingan oleh narasumber. Keluaran dari festival literasi lokakarya alih suara adalah terkumpulnya 25 karya peserta berupa voice over syair gulung, cerita anak dan kuliner pusaka tanah kayong yang akan di dokumentasikan dan bisa disebarluaskan untuk pembelajaran bersama”, jelas Marlina.
Marlina juga menjelaskan voice over merupakan kebutuhan kekinian dalam menyampaikan pesan baik dalam aktivitas di lingkungan sekolah, kampus, dan bahkan dalam bisnis dan banyak ditemui diberbagai media sosial atau media alternatif yang lalin usaha seperti Iklan TV, radio, dan digital, Video YouTube dan konten media sosial, E-learning dan video training, Audiobook dan podcast, serta profil usaha dan presentasi bisnis, tegasnya.
Lokakarya alih suara yang diselenggarakan sebagai langkah awal Generasi Z untuk memulai melatih suara, merekam contoh (demo), lalu mencoba proyek kecil untuk membangun pengalaman dengan menggunakan gawai pribadi lalu berani membangun tim kerja kecil dalam tim kreatif tersebut, cetusnya.
Semenatara itu, Ketua OSIM MAN 1 Ketapang, Darfa Satya Natapraja mengapresiasi festival literasi tahun 2026, kami melihat antusiasme besar dari seluruh peserta untuk berkarya dan melestarikan budaya lokal Tanah Kayong. Kami berharap para peserta tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga melahirkan karya-karya nyata seperti penulisan naskah syair, buku audio, hingga dokumentasi kuliner lokal, harapnya.
Darfa juga terkesan dengan kegiatan Festival literasi inklusif tanah kayong yang merupakan forum tersebar di Kabupaten Ketapang yang sangat menginspirasi generasi muda untuk terus berkarya dan menggerakkan budaya literasi dengan kekuatan aksi sosial dan budaya yang dimiliki.
“Bangga menjadi bagian dari kesempatan berharga ini dan kami berkomitmen untuk mengembangkan ilmu yang didapat menjadi karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat”, tutup Darfa. (01)


















