Alaku
Alaku
Alaku Alaku

Tragedi Kemanusiaan Seluma : “TAMBANG ILEGAL, MEMENJARAKAN RAKYAT”

Bengkulu, Darah Juang Online — Aksi ibu-ibu Pasar Seluma menolak aktifitas tambang pasir besi berbuntut penahanan 4 orang ibu-ibu dan 4 aktivis pada senin (27/12/2021) sekitar pukul 11.30 WIB oleh Kepolisian resort Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu, yang dipimpin Kabag OPS Polres Seluma, memaksa ibu-ibu yang masih bertahan ditenda untuk membubarkan diri, aksi penolakan penambangan pasir besi tersebut sudah dilakukan sejak lima hari lalu.

Diketahui, ada 8 orang warga dan aktivis yang dibawa paksa oleh aparat kepolisian resort Seluma, antara lain Anton Suparianto, Fitri, Novita, Rustam Efendi, Rivaldo dan aktivis pendamping Abdul (WALHI bengkulu), Selvia (GENESIS), dan Rahmat Coucil.

Alaku

Atas tragedi kemanusiaan di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu tersebut, mendapat kritik dan pandangan keras dari berbagai pihak.

Disampaikan Ketua PKBHB Evi Elvina Dwita, tindakan aparat kepolisian resort Seluma yang membubarkan secara paksa demo itu serta melakukan penangkapan adalah suatu tindakan yang bertentangan dengan visi Kapolri Jenderal Listiyo Sigit Prabowo yang menekankan para aparat Polri untuk menghindari cara-cara kekerasan.

“Kami mengecam keras tindakan aparat yang ada dilapangan yang harusnya dapat bernegosiasi dengan warga.” Terangnya.

Lebih disampaikan, “Kami meminta Kepala Kepolisian Resort Seluma untuk dapat membebaskan ibu-ibu dan aktivis yang diamankan dan juga meminta pemerintah Provinsi serta Pemerintah kabupaten Seluma untuk meninjau ulang izin tambang pasir besi tersebut,” cetus Evi Elvina,SH.

Hal yang sama juga disampaikan Sekjen Serikat Tani Bengkulu (STaB) Andi Wibowo bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Seluma bersama Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam hal ini harus bertindak cepat dalam menyikapi konflik-konflik Agraria (masyarakat yang berhadapan dengan perusahaan) sehingga masyarakat kecil tidak menjadi korban.

“Tambang pasir besi ini salah satu kasus yang ada Provinsi Bengkulu dan masih banyak persoalan-persoalan lain yg menyangkut masyarakat kecil dan petani, saya menyayangkan ketika para ibu-ibu sampai 5 hari menduduki lokasi tambang pasir besi tersebut yang berakhir dengan pembubaran paksa dan ditangkap.” Tegas Sekjen STaB dalam rilisnya. (12)

Respon (1)

  1. Kami dari komunitas Peduli Lingkungan ( KOPLING) turut prihatin akan nasib yang menimpa masyarakat di Pasar Seluma,kami hanya bisa berdoa dan kami yakin Allah SWT pasti akan mengabulkan doa doa orang yang teraniyaya…. Aamiin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *