Alaku
Alaku
Alaku Alaku Alaku

Diduga Terdampak PLTU, Warga Teluk Sepang Terindikasi Menderita Gangguan Fungsi Paru 

Diduga Terdampak PLTU, Warga Teluk Sepang Terindikasi Menderita Gangguan Fungsi Paru

 

Alaku

Nasional, Darahjuang.online — Organisasi Lingkungan Hidup Kanopi Hijau Indonesia bersama tim akademisi merilis temuan awal riset kesehatan terkait dampak polusi udara di Bengkulu. Berdasarkan pemeriksaan awal menggunakan alat spirometri terhadap 25 warga Kelurahan Teluk Sepang usia 18 tahun ke atas, ditemukan indikasi awal adanya gangguan fungsi paru-paru pada sejumlah masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara tersebut.

 

Pemeriksaan ini merupakan bagian dari penelitian komprehensif bertajuk “Hubungan Paparan PM2.5 Ambien dengan Gangguan Fungsi Paru pada Masyarakat di Sekitar PLTU Batubara Teluk Sepang: Studi Komparatif Paparan Tinggi dan Paparan Rendah”. Riset ilmiah ini berjalan atas kolaborasi antara Kanopi Hijau Indonesia, fakultas kedokteran dan Ilmu kesehatan Universitas Bengkulu (UNIB), Dosen dari Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Tri Mandiri Sakti Bengkulu dan Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

 

Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional comparative study berbasis komunitas. Studi ini membandingkan dua kelompok wilayah untuk menilai dampak nyata dari partikulat halus PM2.5 yakni kelompok Paparan Tinggi Mencakup Kelurahan Teluk Sepang, Kelurahan Sumber Jaya, dengan radius dan Kelurahan Betungan dengan radius >5 Km dan kelompok Paparan Rendah dengan Radius ≥20 km dari PLTU mencakup Kelurahan Kandang Limun, Kelurahan Bentiring, dan Kelurahan Pekik Nyaring. Secara keseluruhan, riset ini mengumpulkan total sampel sebanyak 212 orang dari seluruh wilayah tersebut.

 

Diketahui, PLTU batubara menghasilkan partikulat ultra halus (PM2.5) yang dapat bertahan lama di udara sehingga sangat rentan terhirup oleh masyarakat sekitar. Di berbagai studi international, masyarakat yang tinggal di dekat PLTU menunjukkan gejala kronis seperti peningkatan risiko gangguan paru seperti asma, bronchitis kronis, dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Berdasarkan dokumen AMDAL, operasional PLTU Teluk Sepang diperkirakan menghasilkan sekitar 202,88 ton emisi PM2.5 per tahun. Paparan PM2.5 berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan fungsi paru pada populasi yang tinggal di sekitar kawasan industri mencapai 38,5%.

 

Kondisi ini sejalan dengan tren kesehatan masyarakat lokal dalam beberapa tahun terakhir. Hasil riset kanopi Hijau Indonesia tahun 2022 – 2023 yang mencatat munculnya fenomena gangguan pernafasan pada warga sekitar. Inventarisasi mandiri penduduk menemukan sedikitnya 42 orang mengalami keluhan respirasi, sementara Dinas Kesehatan Kota Bengkulu menegaskan bahwa penyakit tersebut berkaitan dengan buruknya kualitas lingkungan udara. Hasil penelitian susilo wulan (2024) terhadap 85 warga Kelurahan Teluk Sepang menunjukkan 62,5% responden mengalami gangguan pernafasan.

 

Peningkatan konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 dari 18 μg/m³ pada 2021 menjadi 24 μg/m³ pada 2023, Pengukuran tambahan oleh Kanopi Hijau Indonesia (KHI) bersama Laboratorium Dinas Data pemantauan kualitas udara dari BMKG stasiun Pulau Baai menunjukkan kualitas udara di sekitar kawasan pesisir Bengkulu mencapai kategori tidak sehat, terutama pada pukul 04.00–05.00 dan 08.00 WIB. Lingkungan Hidup Kota Bengkulu menunjukkan variasi kadar PM2.5 di lima titik pengamatan. 28-44 μg/m³ di titik pinggir jalan, sisi PLTU I, sisi PLTU II, dan dekat pantai. 139 μg/m³ di depan pintu gerbang PLTU, jauh melampaui ambang baku mutu WHO (15 µg/m³ harian).

 

Analisis Health Impact Assessment (HIA) di berbagai negara juga menunjukkan beban kesehatan akibat PM2.5 sangat besar. Emisi dari 88 PLTU batubara secara global diperkirakan menyebabkan 6.000-10.700 kematian prematur setiap tahun. STerementara di India polusi udara berkontribusi terhadap 2,67 juta kematian pada tahun 2019, dan di Thailand lebih dari 50.000 kematian serta 500.000 DALYs per tahun.

 

Meskipun hasil spirometri pada warga Teluk Sepang pertama telah memberi sinyal kuat adanya masalah kesehatan respirasi, namun kajian mendalam dan analisis lanjutan dari total 212 sampel masih terus berjalan.

 

Ketua tim riset dari Stikes Tri Mandiri Sakti, Wulan Susilo mengatakan, hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bukti ilmiah yang kuat bagi pemerintah untuk membuat kebijakan kesehatan lingkungan yang lebih berpihak pada warga. Ungkapnya, sebagaimana termuat dalam rilis yang diterima Awak Media DJO. Kamis (5/11/2026)

 

Selain itu, data ini juga penting untuk mengevaluasi kembali izin lingkungan (AMDAL) dari perusahaan energi, agar dampak buruk polusi terhadap kesehatan masyarakat bisa ditekan sekecil mungkin.

 

“Dinas kesehatan diharapkan memperkuat upaya promotif, preventif, dan kuratif. Pemerintah daerah juga meningkatkan pemantauan kualitas udara, sistem deteksi dini serta memastikan keterbukaan informasi risiko kesehatan lingkungan bagi masyarakat. Perlindungan kesehatan dan keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam kebijakan energi bersih dan lingkungan guna menjamin hak atas lingkungan hidup yang bersih sehat dan aman,” ujar Wulan. (Rls/01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *