Alaku
Alaku
Alaku Alaku

Politik identitas dengan menjual agama sebagai sarana dukungan cuma-cuma oleh Axcellino Fernando Adnan

Politik identitas dengan menjual agama sebagai sarana dukungan cuma-Cuma

Oleh : Axcellino Fernando Adnan
(Peserta LK 3 BADKO HMI SUMBAGSEL)

Alaku

Seorang tokoh post-modernisme ean Baudrillard, mencetuskan sebuah konsep yang disebut simulacra, konsep ini menilai bahwa manusia saat ini tidak lagi menggunakan sesuatu berdasar fungsi dan kebutuhan, tetapi hanya sebatas simbol. Realitas yang terjadi menjadi realitas palsu yang terus dilanggengkan, termasuk dalam kehidupan beragama hari ini.

Menjamurnya berbagai simbol-simbol agama sebagai komoditas telah menjauhkan umat muslim dari esensi ibadah sesungguhnya. Walhasil, simbol agama menjadi pusat ‘pemujaan’ baru mengalahkan pemujaan pada Tuhan yang menjadi ajaran agama.

Sebagai contoh adalah cara berpakaian. Saat ini ada banyak kalangan yang mengaku berhijrah setelah ‘menyesuaikan’ diri berpakaian seperti orang-orang di Arab dengan baju kurung dan jubahnya, atau mengganti kata ‘saudara’ dengan ‘akhi/ukhti’.

Apakah berbaju kurung dan berjubah itu salah? Tentu saja tidak.

Banyak kiai di Jawa mengenakan jubah saat menjalankan ibadah shalat Jumat di masjid. Tapi mengapa tidak ada yang mempermasalahkan? Jawabannya adalah terletak pada cara pandang terhadap jubah itu sendiri.

Jika menggunaan jubah dengan tujuan meniru Nabi Muhammad SAW dalam berpakaian tanpa meninggalkan sikap ketawadhuan dan kehati-hatian dalam bersikap tentu tidak masalah. Yang menjadi persoalan adalah Ketika sebuah pakaian yang bagi umat muslim tujuannya adalah untuk menutup aurat, malah dijadikan sebuah simbol yang dapat merubah pola pandang seseorang terhadap yang menggunakannya. Terlebih jika hal tersebut justru disalah gunakan untuk kepentingan politik untuk mendapatkan dukungan Cuma-Cuma.

Pakaian yang sunnah adalah pakaian yang bersih dan patut sesuai kadar kemampuan seseorang, begitu kata salah seorang kiai saya. Karena bagi para kiai saya, esensi beragama salah satunya menghindari sifat sombong. Lalu jika karena cara berpakaian membuat seseorang menjadi sombong, maka yang dilakukan oleh seseorang tersebut adalah simulakra, memuja simbol tanpa esensi.

Bahasa pun menjadi salah satu titik di mana simulakra terjadi. Pada mulanya bahasa adalah sarana komunikasi. Akan tetapi hal ini menjadi ambigu ketika dibawa ke ranah ideologis. Sesuatu yang berasal dari Arab dianggap Islam, sementara yang berbau Barat dianggap kafir.

Situasi ini menjadi lebih runyam tatkala memasuki era post-truth di mana kebenaran dianggap sebuah kebenaran jika sesuai dengan minatnya. Berita bohong pun dianggap sebuah kebenaran selama sesuai dengan ‘keyakinannya’. Hal ini rentan dimanfaatkan kalangan -kalangan tertentu yang menciptakan industri bagi dirinya melalui pemujaan atas simbol-simbol agama. Karena pada dasarnya simulakra berujung pada produksi besar-besaran demi meraih keuntungan.

Produksi yang dimaksud bukan melulu soal barang, tetapi bisa juga wacana. Sebagai contoh adalah politik identitas yang saat ini menjadi awan mendung perpolitikan Indonesia. Semua yang berbau agama diproduksi sebagai simbol untuk menipu umat demi kepentingan segelintir elit yang gila jabatan.

Agama menjadi alat untuk memecah belah masyarakat yang menjadikannya sangat jauh dari akhlak dan nilai-nilai kemanusiaan, sesuatu yang diperjuangkan Rasulullah SAW semasa hidupnya.

Kembali pada simulakra-nya Baudrillard, ia berpendapat bahwa salah satu dampak simulakra adalah terjadinya jarak sosial. Jika diseret dalam politik, jarak ini yang menciptakan adalah orang-orang yang terobsesi pada kekuasaan. Ia akan memproduksi simbol-simbol melalui wacana-wacana yang membuat masyarakat terpecah dan menjadi semakin tak karuan. Sayangnya, di Indonesia penggunaan simbol agama ini terasa begitu kuat.

Selasa, 16 Agustus 2022. (Red 12)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *