Meratus, Darah Juang Online – Menugal atau melubangi tanah dengan cara ditumbuk menggunakan kayu kecil seukuran pergelangan tangan orang dewasa, atau biasa di sebut Asak ini sudah menjadi kebiasaan warga pedalaman Meratus dalam bercocok tanam, Senin (09/01/2033).
Tradisi warga pedalaman yang berada dikawasan pegunungan Meratus, tepatnya di Dusun Tarambak Desa Haruyan Dayak, kecamatan Hantakan, kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan.Dalam proses penanaman padi masih lestari hingga kini.
Penanaman menggunakan kayu kecil dengan panjang kurang lebih (1) Satu setengah meter sampai (2) Dua meter yang di bentuk mengecil ke ujung seperti tombak atau biasa di sebut Tugal ini lah yang akan membuat lubang-lubang kecil dengan jarak yang beraturan sehingga membuat padi terlihat rapi saat padi mulai tumbuh.
Pembuatan lubang yang berjarak dan teratur dapat mempengaruhi terbentuknya batang-batang padi yang akan tumbuh lebih subur dan terlihat lebih rapi juga nantinya setelah tumbuh.Padil 21 tahun pemilik lahan sawah atau biasa warga pegunungan menyebutnya ladang tersebut, saat berbincang dengan awak media ini yang ikut dalam tradisi menanam padi Gunung.
“Saat menunggu padi tumbuh, kami juga menanam cabe rawit dan ubi jalar yang nanti nya akan di panen setelah habis panen padi, jadi apabila panen selesai kami lanjutkan memanen Cabe dan ubi jalar juga jenis tanaman sayuran lain nya. kalau padi sudah selesai di panen ada lagi penghasilan tambahan yaitu dengan memanin atau memetik tanaman itu tadi,” tambahnya.
Padil menjelaskan. “Memang kalau berbicara soal kesuburan tanah, di kawasan Meratus memiliki kesuburan tanah yang sangat bagus sehingga tanpa pupuk organik atau pun pupuk kimia tanaman dan sayuran akan tumbuh subur dan hasilnya pun berlimpah,” ujarnya.


















