Benteng, Darah Juang Online — Lembaga Penanggulangan Bencana Dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama Cabang Bengkulu Tengah laksanakan Edukasi Pengolahan Sampah Pada Santri di Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an, Desa Panca Mukti kecamatan pondok Kelapa – Bengkulu Tengah, pada Kamis (13/7/23) pagi.
Dimulai sejak pukul 08.00 wib hingga selesai, kegiatan edukasi pengolahan sampah kepada santri, sebagai upayah bersama dalam membangun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan dapat mengumpulan sampah plastik sebanyak 10 karung yang nanti akan di tabung di bank sampah sampah.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah mengumpulkan dan memilah sampah – sampah yang ada lingkungan pondok pesantren. Sampah Anorganik berupa plastik jenis PET dikumpulkan untuk disetor ke Bank Sampah Karya Bersama dan Sampah organik berupa sisa dapur pondok pesantren dan makanan dikumpulkan untuk pemberian makan maggot BSF (Black Soldier Fly).
Ditempat yang sama, Pengurus I PC LPBINU bidang Pelestarian Lingkungan dan Perubahan Iklim Linggar Pramudiono, yang merupakan pemilik perusahaan Ku Jaga Bumi Segara memberikan penjelasan kepada para santri terkait upayah dalam mengurai sampai.
“Bahwa magot adalah mahluk yang paling rakus menyantap makanan jenis apapun akan habis dimakan, Maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik 2 sampai 5 kali bobot tubuhnya selama 24 jam. Satu kilogram maggot dapat menghabiskan 2 sampai 5 kilogram sampah organik per hari, maka pengolahan sampah organik dengan memilihara lalat BSF adalah yang paling efektif.” Jelasnya.
Terkait kegiatan, Sekretariat PC LPBINU Bengkulu Tengah, Kasio, menerangkan bahwa lingkungan merupakan karunia Allah SWT. dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan umat manusia. Lingkungan secara langsung menjadi hajat kebutuhan umat manusia dalam menjalani kehidupan dan mempertahankan eksistensinya. Karena itu, kehidupan umat manusia tidak bisa dipisahkan dari kehidupan alam lingkungannya.
Terdapat hubungan saling mempengaruhi antara perilaku kehidupan umat manusia dengan kondisi alam lingkungan. Kualitas lingkungan hidup sangat berpengaruh terhadap kualitas kehidupan umat manusia. Karena itu, tanggungjawab menjaga dan melestarikan lingkungan hidup menyatu dengan tanggungjawab manusia sebagai makhluk Allah yang bertugas memakmurkan bumi. Lingkungan hidup diciptakan Allah sebagai karunia bagi umat manusia dan mengandung maksud baik yang sangat besar.
Ironinya, manusia kurang mampu mengemban amanat untuk menjaga dan melestarikan lingkungan tersebut. “Pencemaran lingkungan terutama yang diakibatkan oleh sampah plastik sudah sangat memperihatinkan.” Terang Kasio.
Data terbaru menyebutkan bahwa status Indonesia saat ini sebagai penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia setelah China. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2021 volume sampah nasional mencapai 68,5 juta ton. Kemudian pada 2022 volume sampah meningkat menjadi 70 juta ton. Tambahnya.
Hanya separo yang dibuang dan dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sisanya dibakar secara ilegal atau dibuang ke sungai dan laut yang merusak ekosistem. Ketika sampah mikroplastik berubah menjadi nanoplastik dan kemudian dimakan ikan dan seterusnya dikonsumsi manusia, limbah plastik telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Untuk volume sampah di Kota Bengkulu perhari kurang lebih mencapai 400 ton. Hal ini tentu harus menjadi perhatian bersama.
Hal ini menandakan bahwa persoalan kelestarian lingkungan bukanlah persoalan individu, melainkan sudah menjadi persoalan umum. Al-Quran telah menggambarkan kerusakan yang terjadi di dunia diakibatkan ulah manusia sendiri. Tutup Kasio.
Kegiatan yang berjalan sukses ini melibatkan berbagai pihak, Ketua PW LPBINU Bengkulu, Pengurus Cabang LPBINU bengkulu tengah, Penyuluh Agama Islam Kantor Kementrian Agama Kabupaten Bengkulu Tengah, dan Santri Ponpes Tahfidz Nurul Qur’an Bengkulu.
Sebagai tindak lanjut kegiatan, akan dilakukan Pendampingan Pendirian Bank Sampah Pondok Pesantren Tahfidz Nurul Qur’an Bengkulu. (Rls/01)


















