Sukses Jaga Stabilitas Dimasa Transisi, Iswahyudi resmi dilantik sebagai Direktur Utama definitif Bank Bengkulu
Bengkulu, Darahjuang.online — PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bengkulu memasuki babak baru dalam penguatan transformasi kelembagaan. Setelah sukses mengawal stabilitas perusahaan selama satu tahun masa transisi, Iswahyudi resmi dilantik sebagai Direktur Utama definitif Bank Bengkulu.
Prosesi pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung oleh Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, di Kota Bengkulu, Senin (22/6/2026). Langkah strategis ini diambil sebagai tindak lanjut atas keputusan bulat dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Selain posisi direktur utama, manajemen bank kebanggaan masyarakat Bengkulu ini juga diperkuat dengan dilantiknya Aprikie Putra Wijaya sebagai Komisaris Independen.
Pelantikan ini menjadi tonggak krusial bagi Bank Bengkulu bergerak lebih lincah di tengah ketatnya kompetisi industri perbankan nasional, sekaligus mempertegas perannya sebagai motor penggerak ekonomi di bumi Merah Putih.
Terpilihnya Iswahyudi mencerminkan tingginya kepercayaan para pemegang saham, yang mayoritas merupakan pemerintah daerah di Provinsi Bengkulu, terhadap kapasitas kepemimpinannya. Selama satu tahun ke belakang, saat menjabat sebagai pelaksana tugas (Plt) direktur utama, ia dinilai berhasil mengurai berbagai tantangan operasional dan menjaga performa bank tetap sehat di masa-masa krusial.
Gubernur Helmi Hasan mengungkapkan, kesepakatan bulat yang tercapai dalam RUPSLB merupakan modal sosial yang sangat besar bagi jajaran direksi. Kepercayaan tanpa sekat dari para pemegang saham ini memberikan ruang legitimasi yang kuat bagi manajemen untuk mengeksekusi kebijakan-kebijakan strategis ke depan.
Namun, Helmi mengingatkan bahwa esensi keberadaan bank pembangunan daerah tidak boleh terjebak sekadar pada pemburuan laba bersih (profit) demi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ada misi kemanusiaan dan ekonomi kerakyatan yang jauh lebih mendasar.
“Sebagai bank daerah, Bank Bengkulu mengemban tugas mulia. Intervensi dan perhatian lebih harus diberikan kepada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerah. Mereka adalah fondasi ekonomi kita yang sesungguhnya,” tutur Helmi.
Meniti Karier dari Bawah
Di internal Bank Bengkulu, sosok Iswahyudi bukanlah orang baru. Ia merupakan contoh bankir yang meniti karier dari anak tangga terbawah. Sebelum mencapai posisi puncak, rekam jejaknya membentang panjang di berbagai posisi taktis, mulai dari Pemimpin Divisi Pemasaran, Kepala Cabang Utama, hingga Direktur Bisnis.
Pengalaman empiris selama bertahun-tahun di lapangan membuatnya paham betul akan anatomi korporasi, risiko pasar lokal, serta karakteristik sosiologis masyarakat Bengkulu. Kedekatan kultural ini dinilai menjadi modal utama dalam merumuskan produk keuangan yang tepat sasaran.
Usai pelantikan, Iswahyudi menegaskan komitmennya untuk membawa Bank Bengkulu menjadi institusi keuangan yang adaptif, inovatif, dan inklusif. Menurut dia, industri perbankan saat ini menuntut perubahan yang cepat, terutama dalam aspek digitalisasi pelayanan tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian (prudential banking).
“Kepercayaan ini adalah amanah besar. Fokus kami ke depan adalah memperkuat tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance), meningkatkan kualitas layanan digital, serta memastikan Bank Bengkulu tetap kompetitif,” kata Iswahyudi.
Menatap Tantangan Digital
Ke depan, tantangan Bank Bengkulu tidaklah ringan. Di tengah penetrasi bank-bank digital nasional dan ketidakpastian ekonomi global, bank daerah dituntut untuk tidak sekadar bertahan, tetapi juga relevan bagi generasi baru nasabah.
Di bawah nakhoda baru, Bank Bengkulu telah menyiapkan tiga pilar akselerasi: penguatan struktur bisnis internal, percepatan transformasi digital penunjang transaksi, serta penajaman porsi kredit produktif untuk sektor UMKM. Melalui kepemimpinan yang kini telah definitif, Bank Bengkulu optimistis mampu memposisikan diri bukan lagi sekadar sebagai tempat menyimpan dana daerah, melainkan mitra strategis pertumbuhan ekonomi masyarakat. (Rls/01)



















