Alaku
Alaku
Alaku Alaku Alaku

Keseruan peserta mengenal budaya kuliner lokal khas Ketapang pada Festival Literasi Inklusif

Keseruan peserta mengenal budaya kuliner lokal khas Ketapang pada Festival Literasi Inklusif

 

Alaku

 

Nasional, Darahjuang.online — Festival literasi inklusif tanah kayong telah memasuki hari ketiga pada Rabu (16/09) dengan berbagai keseruan didalamnya. Bukan hanya pemateri yang bersemangat mengenalkan budaya kuliner lokal, namun keseruan pada peserta yang hadir turut memeriahkan suasa forum lokakarya tersebut.

 

Bertempat di aula pertemuan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Ketapang, peserta diajak mengenali budaya kuliner ketapang yang bukan hanya sekedar makanan tetapi muat banyak sekali sejarah, tradisi, kearifan lokal, identitas dan karakter serta pengaruh budaya masyarakat yang terbentuk dalamnya, ucap Rina Mutia salah satu narasumber pada lokakarya kuliner pusaka Ketapang.

 

Menurut Rina yang merupakan Budayawan Perempuan Ketapang, mengatakan keberadaan kuliner lokal menjadi identitas khas sebuah daerah dan sebagai warisan budaya dan bahkan meningkatkan potensi ekonomi kreatif yang harus di kembangkan lewat pewarisan budaya kepada generasi muda, tuturnya.

 

Rina menyebut ada banyak kuliner khas Ketapang yang dikenal secara luas di masyarakat seperti Ketupat Colet, Ale-Ale, asam pedas ikan, amplang ikan, es jenurai, jenjorong, sate gembong dan masih banyak lagi, terangnya kepada media (6/09)

 

“tidaklah praktis dalam mempelajari kuliner, di dalamnya terdapat budaya masyarakat yang membentuknya menjadi satu kesatuan dalam ruang pertemuan melalui jenis bahan pangan lokal, cara pengolahan, bumbu dan rempah, teknik memasak, cara penyajian, dan cara makan bersama”, jelasnya.

 

Setelah sesi pengenalan kuliner khas Ketapang, ibu Hj. Herlina yang juga praktisi kuliner mempraktekkan juga cara memasak dan persiapan perlengkapan bahan pangan lokal dan bumbu yang diperlukan. Sesi ini sungguh seru, karena ditunggu para peserta yang sangat tertarik pada isu gastronomi Ketapang.

 

Hj. Herlina yang juga owner Amplang Obic dan Rumah Makan Djadoel yang terkenal di Ketapang memulai penyampaian dengan mengenalkan bumbu-bumbu dan sesekali memberikan pertanyaan kepada peserta yang tangkap dengan suasana penuh kegembiraan dalam ruang festival literasi Inklusif tanah kayong 2026.

 

Menurut Hj. Herlina, penting sekali generasi muda baik pelajar maupun mahasiswa untuk mengenal kekayaan bahan pangan lokal yang dijadikan bumbu masakan. Para peserta diajak mencatatkan dan mendokumentasikan resep masakan kuliner khas Ketapang, ajaknya menyemanggati.

 

“Selain mengenal bentuk, rasa, dan aromanya dari beragam bumbu yang disajikan dalam memasak, proses memasak juga menjadi bagian penting hingga menjadi sebuah masakan yang diminati masyarakat dan pecinta kuliner”, sahutnya.

 

Hj. Herlina menambahkan, masakan sambal ale-ale, Asam Ikan Pedas, es Jenurai yang dibuat secara langsung memiliki tingkat beragamnya bumbu serta hidangan ketupat colet yang sudah disiapkan di meja menjadi pelengkap sesi terakhir dalam lokakarya kuliner khas Ketapang, ujarnya.

 

Antusiasme peserta terasa sekali dengan banyaknya pertanyaan dan sesekali dimintai pendapat berkenaan dengan pemahaman kuliner Khas Ketapang. Turut membersamai juga komunitas ibu-ibu dari PKK, Guru Sekolah Luar Biasa, dan Forum Taman Bacaan Masyarakat.

 

Secara terpisah, Ketua Sahabat Cita Khatulistiwa, Neng Marlina Efendi berharap Festival Literasi Inklusif Tanah Kayong tahun 2026 yang mengangkat tema “Merawat Rasa, Merangkai Kata” sebagai ruang pertemuan pengetahuan antar generasi dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat Ketapang untuk mengetahui, memperkuat dan melestarikan tradisi serta budaya lokal Tanah Kayong, harapnya.

 

Tujuan dari praktek cara memasak ini, adalah cara untuk memperkuat literasi kita dan generasi muda harus mengetahui proses masakan dan ragam budaya kuliner khas yang ada di Kabupaten Ketapang, tutupnya. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *