2 TAHUN PRABOWO–GIBRAN: MAHASISWA DAERAH JANGAN DIAM! REGO BANGKITO SERUKAN KONSOLIDASI GERAKAN RAKYAT
BENGKULU, Darahjuang.online — 2 (Dua) tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka harus menjadi momentum bagi rakyat untuk mengevaluasi arah kebijakan negara. Persoalan ekonomi, kerusakan lingkungan, kebebasan berpendapat, korupsi, hingga mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan menuntut jawaban nyata dari pemerintah.
Rego Bangkito, Tokoh pemuda, Ketua Himpunan Mahasiswa Seluma (Himasel), sekaligus Ketua Organisasi Mahasiswa Daerah Provinsi Bengkulu, Kader HMI, Sekaligus Founder Akar Rumput. mengajak mahasiswa dan pemuda daerah untuk tidak tinggal diam menghadapi berbagai persoalan bangsa.
“Jangan sampai kita hanya menjadi penonton ketika persoalan bangsa terus dibicarakan. Jangan berpikir bahwa perjuangan hanya milik mahasiswa di Jakarta. Kita yang berada di Bengkulu juga punya tanggung jawab untuk bersuara. Ketika rakyat menghadapi persoalan, mahasiswa tidak boleh memilih diam,” tegas Rego. Rabu (21/10/26)
Menurutnya, ada lima persoalan yang harus menjadi perhatian serius pemerintah. Pertama, penanganan bencana lingkungan dan pemulihan korban secara menyeluruh. Kedua, pembenahan ekonomi, kestabilan harga kebutuhan pokok, dan perluasan lapangan kerja. Ketiga, jaminan kebebasan berpendapat tanpa intimidasi. Keempat, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme tanpa tebang pilih. Kelima, pendidikan dan layanan kesehatan yang terjangkau serta merata hingga ke daerah terpencil.
Bagi Rego, lima persoalan tersebut tidak cukup dijawab dengan janji atau pernyataan politik. Masyarakat membutuhkan kebijakan yang jelas, pelaksanaan yang transparan, dan hasil yang bisa dirasakan secara langsung.
“Kalau harga kebutuhan pokok membebani rakyat, lapangan kerja sulit didapat, dan masyarakat masih menghadapi persoalan pelayanan dasar, semua itu harus menjadi bahan evaluasi. Pemerintah harus mau mendengar. Rakyat punya hak untuk bertanya, mengkritik, dan menuntut perbaikan,” ujarnya.
Rego juga menyoroti pentingnya peran mahasiswa daerah dalam membangun gerakan yang terorganisasi. Ia mengajak organisasi mahasiswa, kelompok pemuda, petani, buruh, dan masyarakat sipil untuk memperkuat komunikasi, menyatukan aspirasi, serta merumuskan tuntutan berdasarkan persoalan nyata di lapangan.
“Saatnya mahasiswa Bengkulu bangkit dan mengambil peran. Jangan hanya ramai di media sosial, tetapi hadirkan gerakan nyata. Turun ke masyarakat, dengarkan persoalan mereka, kumpulkan data, satukan barisan, dan sampaikan tuntutan secara terbuka. Kalau kita ingin perubahan, kita harus berani memperjuangkannya bersama-sama,” katanya.
Ia menegaskan bahwa aksi demonstrasi damai merupakan salah satu cara menyampaikan aspirasi dalam demokrasi. Karena itu, Rego mendorong mahasiswa dan pemuda untuk mempersiapkan gerakan melalui konsolidasi lintas organisasi, kajian kebijakan, dan penyusunan tuntutan yang terukur agar suara masyarakat dapat disampaikan secara kuat dan bertanggung jawab.
Menurutnya, gerakan daerah tidak perlu menunggu momentum dari Jakarta untuk mulai bergerak. Bengkulu memiliki persoalan sendiri yang harus diperjuangkan, mulai dari konflik agraria, perlindungan petani, kesempatan kerja bagi pemuda, hingga akses pendidikan dan kesehatan.
“Dua tahun pemerintahan ini harus menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar perayaan. Kita tidak sedang mencari keributan, tetapi menuntut agar persoalan rakyat benar-benar diselesaikan. Jangan biarkan suara masyarakat berhenti sebagai keluhan tanpa jawaban,” tegas Rego.
Ia mengajak seluruh elemen mahasiswa dan pemuda di Bengkulu membangun gerakan yang berani, solid, damai, dan konsisten mengawal kebijakan pemerintah.
“Jangan biarkan daerah hanya menjadi penonton. Saatnya mahasiswa dan pemuda Bengkulu bersuara, bergerak, dan berdiri bersama rakyat. Sebab perubahan tidak lahir dari sikap diam, tetapi dari keberanian menyampaikan tuntutan dan konsistensi memperjuangkannya.” Tegasnya. (01)


















