Alaku
Alaku
Alaku

Iklhas dan Takdir

  • Bagikan

Roni Marzuki, S.Kom. M.TPd.

Kebersamaan itu membuat aku merasa memiliki dunia, bahkan bersamanya aku mampu melompat tinggi melampaui batas. Semangat perjuangan menggapai cita-cita dirasa naluri karena dorongan kasih cinta yang ia berikan hingga aku mampu meraih kemenangan atas prestasi.

Segudang prestasi telah diukir berkat dorongan motivasi cinta dan kasih yang ia berikan. Tanpa disadari bertahun lama cinta suci dibangun atas dasar saling percaya menjanjikan ikatan halal menuju rumah tangga bahagia. Namun, seketika saja tanpa angin dan tanpa hujan rencana pernikahan itu kandas secara tiba-tiba.

Mendapat kabar pembatalan sepihak rencana pernikahan yang telah direncanakan secara matang jauh hari membuat hati hancur tidak menerima kenyataan. Rasa emosi, dendam bahkan pikiran kotorku ingin melakukan balas dendam demi terbalasnya rasa sakitpun hadir membayangi pikiran.

Perasaan emosi bercampur dendam terasa mengobrak abrik hati hingga terasa sesak nafas di dada. Hati ini rasanya sulit mengiklaskan semua yang nyata terjadi. Menelisik persoalan percintaan ini disadari kata ikhlas mudah untuk diucapkan namun sulit dilakukan.

Sekarang aku mulai memaklumi jika beredar berita diberbagai surat kabar pemuda ataupun pemudi yang mengakhiri hidupnya dengan cara pintas karena putus bercinta. Bahasa yang sering terdengar dikalangan pujangga “Cinta” dapat membuat seseorang melakukan hal bodoh.

Seperti berita viral datang dari Brazil tahun 2020 lalu, Diago Rabelo seorang laki-laki pengusaha sukses mengalami trauma lantaran gagal nikah karena calon pengantin wanita memilih berpisah secara tiba-tiba. Sulit menerima kenyataan itu mengakibatkan Diago Rabelo memutuskan untuk tidak menikah sehumur hidup kecuali menikahi dirinya sendiri.

Sisi lain, sulit juga diterima jika alasan putus cinta atau gagal nikah harus mengakhiri hidup dengan cara pintas maupun tindakan bodoh lainnya. Bukankah akhir dari proses perjalanan hidup itu ada takdir. Begitu juga dengan hubungan asmara, berpacaran adalah bagian proses usaha mencapai takdir yaitu pernikahan.

Istilah “Takdir” dapat dijelaskan ukuran yang sudah ditentukan Tuhan sejak zaman azali baik atau buruknya sesuatu, tetapi boleh saja berubah jika ada usaha untuk merubahnya. Sehingga, jika Allah telah mentakdirkan demikian, maka itu berarti bahwa Allah telah memberi kadar/ ukuran/ batas tertentu dalam diri, sifat atau kemampuan maksimal makhluknya.

Memahami pengertian takdir di atas segala sesuatu usaha manusia mencapai tujuan hingga hasil akhir. Hasil akhir itulah yang disebut “Takdir”, dikaitkan dengan persoalan hubungan asmara menjalin hubungan pacaran, bertunangan atau ta’aruf semua itu adalah bagian dari usaha mencapai “Takdir”.

Jika kita berfokus pada kata “Usaha” tentu banyak melewati dinamika (Persoalan) yang dihadapi sehingga terkadang hasil usaha tidak tercapai sesuai takdir yang diinginkan. Tentu saja hal ini menyakitkan jika hati tidak menerima kenyataan.

Rasa sakit itu yang sering disebut penyakit “hati” yaitu ikhlas. Ikhlas sangat mudah untuk diucapkan namun sangat sulit untuk dilakukan.

Meminjam kata Imam Al- Ghazali (1975) ikhlas yaitu melakukan segala sesuatu dengan disertai niat untuk mendekatkan diri kepada Allah dari segala bentuk ketidakmurnian selain taqarub illallah.

Memahami pendapat Imam Al-Ghazali tersebut kita menyadari bahwa apapun yang dilakukan berdasarkan niat tulus keberhasilannya hanya karena tuhan meridhoi adalah pengertian “Ikhlas”.
Jadi ikhlas kunci tenang menghadapi kegagalan takdir.

** Penulis adalah anggota aktif PWI Provinsi Bengkulu dan Koordinator Aliansi Pers Indonesia (API) Bengkulu

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *