Alaku
Alaku
Alaku Alaku

Kujaga Bumi, Lalat Teman Hidupku

Ulat (Blatung) hasil olahan sampah Linggar Pramudiono

Bengkulu Tengah, Darah Juang Online – Persoalan sampah menjadi masalah serius di lingkungan masyarakat. Sering terjadi, akibat genangan sampah bencana besar terjadi. Seperti: banjir, bauk tak sedap bahkan perubahan iklim dari udara di bumi terasa sejuk menjadi terasa panas akibat tumpukan sampah masyarakat.

Alaku

Pertanyaannya, perusakan bumi dari tumpukan sampah itu akibat ulah siapa?
Pertanyaan kedua, bencana yang sering terjadi akibat perusakan bumi itu siapa yang merasakan?

Dua pertanyaan di atas tentu kita tahu jawabannya adalah manusia. Artinya, harus disadari bencana yang sering terjadi itu akibat dari manusianya yang tidak menjaga bumi.

Dari pemikiran ini, salah seorang aktivis lingkungan yang tergabung dalam Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Bengkulu Tengah (Benteng), Linggar Pramudiono membangun kesadaran diri menjaga bumi dengan tidak mengotori lingkungan.

Sarjana Teknik Mesin, Linggar Pramudiono ini menjabat sebagai Wakil Ketua 1 Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim LPBI NU Bengkulu Tengah cukup berpikir kritis dan memberikan solusi efektif menjaga kelestarian lingkungan dari sampah-sampah yang di produksi manusia.

Menurutnya, (Linggar Pramudiono) harus dibangun kesadaran dimulai dari diri sendiri bahwa setiap sampah yang dibuang itu dapat mencemari dan merusak lingkungan.

“Wajar dong bumi marah, dengan membuat bencana jika manusianya tidak menjaganya,”. Kata Linggar saat rapat internal LPBI NU Bengkulu Tengah, Minggu (11/09/22) sore di kediamannya.

Rapat Internal LPBI NU Benteng, Membahas Penanggulangan Bencana

Kemudian, Linggar Pramudiono menguraikan konsep pelestarian lingkungan untuk menjaga bumi dari sampah.

“Sampah sebetulnya bisa kita olah menjadi produk berkualitas yang bisa dijual dengan harga mahal. Misal sampah organik, kita olah menjadi pupuk, makanan hewan peliharaan dan lainnya. Atau sampah non organik kita olah menjadi produk berkualitas lainnya,”. Kata Linggar Pramudiono lagi.

Tekanan bencana alam, ditambah dengan tekanan musibah nasional covid-19 kemarin membuat Waka 1 LPBI NU Benteng ini selalu mencari cara dengan menguji coba membuat produk berbahan baku dari sampah.

Berpedoman dari teori rantai makanan (Mahluk hidup saling berkaitan), Linggar Pramudiono mencermati kumpulan lalat-lalat hitam di tumpukan sampah. Lalat-lalat itu menghasilkan ulat-ulat (Blatung) yang menjijikkan.

Sisi lain, ulat-ulat tidak menjijikkan bagi hewan peliharaan seperti ikan lele, ayam, bebek, ikan hias, burung peliharaan dan lainnya. Justru ulat-ulat tersebut menjadi konsumsi segar bagi hewan-hewan tersebut.

Selanjutnya, hewan-hewan peliharaan seperti lele dan ayam bisa memproduksi pupuk organik yang berkualitas tinggi. Misal, ikan lele bisa memproduksi pupuk organik cair dari air tempat ikan lele hidup. Ayam bisa memproduksi pupuk kandang. Pupuk-pupuk ini bisa membuat tumbuhan subur. tumbuh-tumbuhan yang subur dapat menyegarkan lingkungan dan memproduksi buah berkualitas.

Linggar Pramudiono juga menguraikan bahwa, tumbuhan yang di rawat dengan baik seperti di beri pupuk akan memberikan kontribusi baik juga dengan manusia seperti berbuah lebat. Hal ini tentu manusia cukup terbantu oleh tumbuhan seperti: Kopi, Nangka, Durian, Karet dan lainnya.

“Kira kira keterkaitannya seperti ini, Tumbuhan membutuhkan hewan, hewan membutuhkan manusia, manusia membutuhkan tumbuhan, tumbuhan membutuhkan manusia, hewan membutuhkan manusia dan manusia membutuhkan hewan,”. Jelas linggar Pramudiono.

Konsep yang disampaikan Linggar Pramudiono tidak hanya teori, tetapi solusi kongkrit yang dicontohkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Roni Marzuki, Ketua LPBI NU Benteng saat meninjau pengolahan Mag Goot

Di depan pondok kecil dengan luas tanah kurang lebih 40 X 30 miliknya itu terlihat tulisan ada Mag Goot. Mag Goot adalah ulat telah dikeringkan hasil produksi lalat. Produksi Mag Goot berdasarkan prinsip rantai makanan.

Lalat bertelur menghasilkan ulat, ulat menyukai sisah makanan manusia seperti buah-buahan, nasi, tumbuh-tumbuhan dan lainnya. Hewan seperti, burung, ayam, bebek, ikan lele dan lainnya menyukai ulat. Hewan bisa memproduksi pupuk yang dapat menyuburkan tumbuhan.

Prinsip rantai makanan tersebut di atas menjadi awal pengolahan Mag Goot hasil pemikiran Linggar Pramudio secara profesional. Saat ini Linggar Pramudiono bisa mengurangi sampah yang dapat merusak lingkungan sehari 50 Kg. Hasil pengolahan sampah itu bisa memproduksi Mag Goot sedikitnya 300 Kg per bulan.

Harga Mag Goot kering sekira ukuran seper-enam kilo yang sudah dikemas dalam botol di pasang nilai Rp. 7.000 ribu per-botol. Selain itu, ia menanamkan prinsip rantai makanan.

Di sebelahnya ada kolam lele yang bisa memproduksi per-tigga bulan sedikitnya 1 ton ikan. Ikan lele itu diberikan makanan Mag Goot hidup hasil olahan sampah.

Menjanjikan bukan, bisnis sampah jika dikelola profesional. Ingat, jaga bumi dengan mengelola sampah. Sampah terjaga uang dapat. Bumi terjaga, bencana jauh.

Mag Goot kering siap produksi

Jika ingin memesan Mag Goot untuk menyehatkan hewan peliharaan anda dapat menghubungi: +62 852-6685-5110. (01).

Ditulis oleh: Roni Marzuki. Roni Marzuki adalah Pimpinan Redaksi Darah Juang Online, ia juga pengurus PWI Provinsi Bengkulu. Roni Marzuki juga aktivis lingkungan, menjabat sebagai Ketua LPBI NU Bengkulu Tengah. Roni Marzuki merupakan alumni HMI Cabang Bengkulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *