“Sahabat Itu tentang Perjuangan”
Cerita tentang persahabatan sudah ada sejak manusia itu mengenal kehidupan, mereka terikat nilai dan membentuk pola tindak sendiri mengikuti waktu, tempat, dan peristiwa tertentu. Membangun kebudayaan sendiri, hingga masa itu sendiri yang akan menghapusnya.
Ini la cerita yang dapat diungkapkan dari tiga (3) sahabat, yang menjalani hidup di pinggiran kota Bengkulu. Sebagaimana yang tergambar dalam sebuah foto berlatar tiga (3) pemuda, di sebuah teras, rumah kayu dibelakangnya.
Mereka dengan masanya dan kesempatan mengekspresikan tentang rasa mereka sendiri tentang bagaimana memaknai arti sahabat, baik itu tentang kebahagiaan, kegembiraan, kesusahan, semangat, dan mungkin juga mimpi ketika hidup ini masih ada untuk dijalani.
Sebut saja yang ada disana, Faung, Nata, dan Marion. Entah itu sebuah nama, atau sapaan akrab, namun itula yang diketahui dari fakta gambar yang ada.
Itu ketika pada sebuah kesempatan, pada saat mereka gotong royong membersihkan rumah sahabatnya yang bernama Faung, terlihat yang suka mengatur namun tidak mudah marah Nata. Tidak seperti yang satu lagi Marion, sahabat yang selalu menjadi candaan bagi yang lain, cepat marah namun dengan karakternya hanya membuat lucu bagi yang merasakan.
Pada saat itu, semuanya masih anak muda yang belum mengenal beban keluarga. Belum bekerja yang dibebankan waktu, pikiran, tenaga, dan bahkan tekanan dari pimpinan. Karena mereka lebih memilih kerja yang lepas, namun cukup untuk membeli rokok, beli bensin untuk motor Supra, ada pulsa untuk chat dan mendengar musik, juga untuk membeli makanan dikala lapar.
Mulai dari rokok kretek sederhana, ada juga yang ndak rokok bergabus tapi beli batangan.
Rumah ini juga dibangun secara gotong royong, memang yang nama Faung ini suka menyusahkan teman, selalu mengajarkan agar berjuang itu sama – sama. Memang membebani sahabat yang lain.
Bahkan suatu kala sumur dibelakang pondok juga dibangun secara gotong royong, tapi prinsipya apa yang biasa dikatakan Marion dapat merokok jadilah. Ndak Kayo bukan disini, benar Pulo tapi.
Beda dengan yang nata, kadang memang terlalu baik dengan kawan, sehingga banyak la rugi. Sampai roti dari kawan, kalau kawan Ado yang mintak juga diberikan. Haaaaa
Dokumentasi ini diambil disebuah tempat dipinggir kota Bengkulu, pada dasarnya sudah masuk wilayah Bengkulu Tengah, bila dari kota Bengkulu lewat simpang 4 Tugu Hiu menuju arah pondok Kubang.
Lahan milik Faung ini, bukan tanah wakaf, bukan juga wasiat. Tapi tanah yang diperjuangkan dengan dibayar secara kredit, dan itu juga masih lahan sahabat, sehingga kreditnya juga bersahabat.
Menurut mereka, pada dasarnya sahabat selalu banyak cerita. Tentang menikmati hidup dan memperjuangkan sesuatu yang masih diimpikan.
Tapi disisih lain foto, akan lebih banyak cerita menarik yang belum mampu diceritakan, tentang Bos Leo yang sudah seperti Bos Yakuza sayangnya tidak gondrong dan bertato, tapi ceritanya itu sudah seperti menguasai Kawasan Tokyo.
Ada juga tentang Andre anak Wak Ujang, kalau berkerja konsisten menyelesaikan tidak seperti Marion memang selalu pekerjaan yang ringan tidak selesai, tapi kalau dimintak mindahkan batu berat atau menggali tanah selesai.
Si Andre ini, sudah suka marah wajah serius jadi suka membuat malas sahabatnya. Berurus pasti panjang, tapi terkadang cepat melupakan persoalan.
Mereka semua ini sudah saling mengenal karakter masing – masing, jadi kalau ada persoalan cepat mencari jalan keluarnya. Karena bagi mereka jangan suka persoalan, hidup sudah susa, jadi nikmati sajala.
Besok juga Ndak kerja, minimal bisa bertahan jadilah.
Belum mereka yang masih beselbu di dalam, belum datang dan tukang foto. Ada Rafek jemo Pali ni, menengkan palak, belum lagi dengan gadis itu la bisanya. Parahhh Mimin yang berjuang walaupun hanya dari recehan di emperan tapi sudah menulis cerita bagaimana melihat kebahagiaan sebuah keluarga. Bos Genk yang hilang balik kedusun (Lebong) atau masih sibuk dengan mesin traktor… Entahla.
Catatan Penulis 2016 (Ak)
Bengkulu

















