Alaku
Alaku
Alaku

Sarwono Kusumaatmadja “Menghadapi Krisis Global, Lepaskan Kiblat Barat, dan Lihat Cultur Bangsa sendiri”

  • Bagikan

Jakarta, Darah Juang Online — Menarik dalam diskusi akhir pekan dengan Tema Tantangan Kaum Intelektual : Degradasi, Deforestasi, dan Perubahan Iklim Global, yang diselenggarakan oleh Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita, dengan moderator Dr. Fachruddin Mangunjaya dan Dr. Myrna A. Safitri, dan host Kang Jana Tea / Sujana Sulaeman, Sabtu malam (19/9) via zoom meeting (Daring). Menghadirkan Ir. Sarwono Kusumaatmadja sebagai narasumber, dan penanggap Prof. Sri Puryono, Prof Dodik Ridho Nurrochmat, dan Prod Wahyudi

Dalam paparanya Sarwono Kusumaatmadja menyampaikan, bahwa dalam kondisi krisisi, ketika bendera sudah ditancapkan akan ada orang berlari, tiarab, dan ada yang akan datang untuk bersama-sama.

“Kita butuh mereka yang datang, karena peradapan yang sekarang dan model ini adalah peradapan yang dibentuk oleh etnosentrisme dan Antroposentrisme orang eropa. Apakah akan bertahan lama.? Seperti negara besar Amerika, saat ini adalah negara yang perlu dikasihani. Semua yang dilakukan salah. Seperti Amerika yang sudah vaksin 43 % masyarakatnya, tetapi sekarang rumah sakit penuh dengan pasien, dan kita tidak bisa lagi berkiblat kesana. Kita harus berpaling kepada sumber-sumber didalam negeri yang cultural, dan dalam keadaan apapun dapat lentur menghadapi krisis,” Ungkabnya.

Sarwono juga menjelaskan, faktor pengubah utama global adalah perubahan iklim, pandemi covid 19, dan perkembangan teknologi informtik digital. Ketiga hal ini saling terkait dalam dinamika ekonomi, sosial, dan bidang lainnya. Dampak interaksi tersebut menciptakan disrupsi multi bidang, baik disrupsi by design maupun disrupsi by default.

Disrupsi yang disebabkan perubahan iklim dan perkembangan teknologi Imformatika digital, keduanya terjadi di Texas, dan keduanya menyangkur energi.

Lebih lanjut, Sarwono mengemukan, seperti Desember tahun lalu, tiba-tiba suhu mendingin turun mendadak sampai minus 15 derajat dalam waktu singkat akibat perubahan iklim melanda Texas. Akibatnya energi tidak bisa mengalir, pipa-pipa minyak pecah, kilang-kilang juga tidak bisa beroperasi karena ada kerusakan akibat perubahan suhu yang sangat cepat. Celakanya Texas juga tidak bisa mintak tolong penyaluran energi dengan negara bagian lain, karena mereka tidak mempunya koneksi. Sehingga banyak aktifitas masyarakat yang terhenti, salah satu cara bertahan mereka adalah membakar perabotan rumah sebagai penghangat diri.

Sedangkan disrupsi perkembangan teknologi Imformatika digital, sama terjadi di Texas, disana ada perusahaan minyak bumi (BBM), bernama kolonial Paisplen, memiliki jaringan pipa dengan total 8000 KM dan mempunya tangki-tangki penyimpanan barang. Pada zaman sekarang semuanya dikendalikan teknologi informatika digital tersebut. Pada saat itu sistem imformasi mereka di heck/ diretas, sehingga mengakibatkan terjadinya penghentian peyaluran energi.

Atas peristiwa tersebut, Kata Sarwono “Karena pihak perusahaan tidak ingin melakukan pendekatan hukum, yang dianggab lama. Maka peretas tersebut kemudian dibayar dengan bayaran mahal, agar mengembalikan sistem imformatika digital agar dapat berjalan normal. Hal ini terlihat bahwa perkembangan teknologi bisa mengakibatkan kerugian atas kepentingan-kepentingan orang lain. Ujung dari proses ketiga hal tersebut, pada akhirnya membawak peradapat manusia kepada krisis peradapan modern,” tambahnya.

Kemudian dampak hal tersebut bagi Indonesia, Sarwono menjelaskan bahwa Indonesia terkena faktor pengubah global, namun belum tentu mendapat dampak terburuk. Khusus tentang deforestasi dan degradasi lingkungan, telah dilaksanakan kebijakan antisipatif melalui program REDD+ sehingga laju deforestasi menurun cukub signifikan. Selanjutnya berkaitan dengan frekuensi karhutla juga menurun jauh sejak puncaknya tahun 2015 sehingga degradasi lahan juga menurun, disertai juga oleh pelaksanaan perhutanan sosial.

Selanjutnya, Sarwono juga menjelaskan bahwa benar kita tidak bisa memprediksi apa yang terjadi ditengah krisis global, namun yang pasti bahwa umat manusia membutuhkan persediaan pangan, air, dan energi, paparnya.

Maka sangat baik kita mendukung program-program Pemerintah yang mendahulukan ketersedian pangan, air, dan energi harus didahulukan.

Seperti mendukung pembangun Food station, walaupun food station perlu dilakukan namun tidak cukub. Harus ada program pelapisnya, karena pada saat ini adalah keadaan yang luar biasa, karena program food station itu menurut saya adalah program yang sangat mainstreaming, sehingga memerlukan program-program alternatif sebagai pelapis program mainstreaming tersebut, jelasnya Ir Sarwono kembali.

Menurutnya, Sarwono menjelaskan dalam materinya, bahwa para pelaku dibidang-bidang vital (Bidang FEW : food, energy dan water) beragam, mulai dari para senior, generasi muda dan kaum perempuan. Sebagian besar orang biasa, gerakan ini muncul secara natural dan organik terdiri dari satuan-satuan kecil yang bekerja berdasarkan saling percaya dan saling dukung. Semangat gotong royong, saling asih, saling asuh, saling asah.

“Mohon tidak diremehkan gejala ini karena ditengah krisis peradapan, benih-benih peradapan baru tengah muncur. Dengan demikian yang diharapkan dari kaum intelektual adalah agar mengasah kemampuan komunikasi untuk membangun persepsi yang disusul dengan transfer pengetahuan,” ungkabnya sebagai sebuah harapan kedepan.

Dengan demikian orientasi komunikasi kaum intelektual perlu dirubah kearah membangun empati dan respek terhadap orang-orang biasa yang sedang dalam fase permulaan membentuk peradapan baru., tutup Sarwono Kusumaatmadja dalam sampaianya.

Sedangkan penanggab Prof. Sri Puryono menyampaikan meteri deforestasi – Perubahan Iklim dan tantangan kaum intelektual milenial. Menurutnya ada 10 Problem Besar yang dihadapi lingkungan Indonesia.

“Sampah, Banjir, Pencemaran Sungai, Pemanasan Global, kerusakan hutan, abrasi, pencemaran air, dan sebagainya,” ucapnya.

Lebih lanjut, menyampaikan kebijakan pengelolaan hutan 4 periode waktu (Susanne, 2017) yaitu periode 1919-1967 kehutanan monofungsi, periode 1968-1992 kehutanan multifungsi, periode 1993-2006 pengelolaan hutan berkelanjutan, dan periode 2007- sekarang kehutanan dengan pendekatan ekosistem.

Word Bank 1990 menyatakan bahwa deforestasi adalah hilangnya tutupan hutan secara permanen maupun sementara. Pada rentan tahun 2000 – 2009, Indonesia kehilangan hutan alam seluas 1,4 juta ha/ tahun. Pada periode selanjutnya 2009-2013 luasan hutan alam yang hilang berkurang menjadi 1,1 juta ha/tahun dan periode 2013-2017 menjadi 1,4 juta ha/ tahun.

Paparnya Prof Puryono lagi, akibat deforestasi ini, berkoreasi terhadap pemanasan global dan perubahan iklim dunia.

“Akibat dari pemanasan global terjadi kenaikan muka air laut hingga wilayah pantai berkurang, meningkatnya suhu di beberapa daerah, menngkatnya kebijakan hutan ekstrem, menyebabkan banjir dan tanah longsor, penyebaran wabah penyakit, menimbulkan hama penyakit tanaman, kekeringan yang panjang, naiknya suhu air laut, dan mencairnya es di kutub dan sebagainya,” tuturnya.

Maka menjadi peran penting bagi kaum muda intelektual sebagai agen perubahan.

Tambahnya, “Tantangan utama kaum intelektual muda saat ini adalah permasalahan daya juang, konsisten, dan komitmen dalam menjadi penggerak perubahan, pembangunan, dan pelestarian lingkungan agar dapat mewariskan kondisi lingkungan yang lebih baik di masa depan,” kata Sri Puryono.

Sedangkan Prof. Dodik Ridho Nurrochmat menyampaikan bahwa kalau tidak ingin hutan kita di konversi menjadi sawit maka buatlah hutan kita nilainya lebih tinggi dari sawit.

Terkait angka deforestasi tahun 2019/2020 yang kecil diangka 115.5 ribuh hektar, memang kecil namun ada penambahan. Jadi bedakan manual dengan akumulasi jumlah sebenarnya, paparnya.

Terpenting diketahui, menurut Pof Dodik, bahwa luas kawasan hutan 125 juta ha (66%) dari jumlah 190 juta ha total luas daratan Indonesia, tetapi kontribusi sektor kehutan hanya 0,60% dari PDB. Menurun itu ketika tingkatanya 0.

Lalu terkait moratorium, yang harus diketahui dampaknya nanti, karena ketika pohon ditebang ada rantai ekonomi kehidupan didalamnya. Berdampak pada setidaknya ada 21 sektor ekonomi lainnya, kegiatan di sektor kehutanan memiliki efek nilai pengganda tenaga kerja nomor 5, pendapatan nomor 4, dan output yang besar nomor 6. Sehingga kalau mau melarang sesuatu, pendekatan terbaik adalah argumen ekonomi, tidak bisa selalu dengan pendekatan hukum, jelas Dodik kembali.

Sedangkan penanggab terakhir adalah Prof. Wahyudi, menyampaikan agar kita jangan terlena dengan penurunan deforestasi, degradasi, penurunan kebakaran. Namun kita juga harus melihat penomena elnina mengakibatkan kemarau panjang tahun 2016, Indonesia juga harus dilihat hutanya memiliki karakter dan bermacam-macam.

Sedangkan tantangan kehutanan Indonesia adalah deforestasi lahan, perubahan hutan menjadi non hutan dan degradasi lahan yaitu penurunan kualitas dan fungsi hutan. “Ini kita di kehutan ingin mengembalikan dan mengambalikan produktifitas kehutanan dalam ekonomi nasional.” Katanya.

Dalam diskusi ini, Prof Sarwono selaku narasumber juga merespon pertanyaan peserta, dalam jawabanya menyampaikan bahwa kemapanan sebuah oragnisasi itu didesain untuk menjamin dan memanajemen keteraturan. Bagaimana dengan pemerintah, pemerintah itu ada dua (2) komponen didalamnya yaitu komponen politik dan komponen birokrasi. Yang lebih menentukan kemana, orang politik bisa ngomong apa saja, tetapi yang berkuasa dalam organisasi pemerintahan adalah birokrasi. Birokrasi didesain untuk mengatasi kridid atau memelihara keteraturan, tidak birokrasi bukan didesain untuk mengatasi krisis. Sehingga dalam kondisi krisis mereka yang bisa berbuat adalah pihak-pihak yang secara organik bisa berperan. Jadi semua kebiasaan-kebiasaan kita ini, tertinggal oleh dinamika krisis itu sendiri. Pada dasarnya manusia membutuhkan pangan, air, dan energi walaupun dalam kondisi krisis. Maka yang utama pada saat krisis adalah terkait persepsi terkait pentingnya ketersediaan pangan, air, dan energi. Maka penting kaum pelajar untuk turun langsung kelapangan, berdiskusi, dan berbuat lebih banyak di masyarakat. Mereka harus keluar dari zona nyaman mereka, bahwa kita dihadapkan krisis. (12/Ak)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *