Alaku
Alaku
Alaku

Transisi Energi Bersih Sekarang, Karena Kita Butuh Padi Sebagai Makanan Pokok

  • Bagikan

Nasional, Darah Juang Online — Transisi energi bersih adalah aksi menyelamatkan ketersediaan pangan untuk kita dan generasi masa depan.

Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Mahasiswa Sosiologi UNIB Ari Bagus Setiawan pada kegiatan Sosialisasi Sekolah Energi Bersih di Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu pada tanggal 5 Februari 2024.

“Sebagai mahasiswa dan generasi yang akan hidup dimasa depan kita perlu melakukan gerakan melawan krisis iklim demi kelayakan dan keselamatan ruang hidup. Misalnya saja kita ingin di bebapa tahun kedepan tetap mampu mengakses bahan pangan seperti beras dengan mudah dan terjangkau secara ekonomi,” tambah Ari. Sebagaimana termuat dalam rilis resmi yang diterima awak media DJO. Kamis (8/2/24) malam.

Sekolah Energy Bersih #2 menyampaikan dampak buruk energi batubara dan krisis iklim terhadap setiap sector kehidupan seperti kehilangan sumber penghidupan, konflik social, perubahan cuaca ektrim, gagal panen, penurunan kualitas kesehatan dan ekonomi.

Salah satu dampak krisis iklim yang kita lihat adalah banyaknya bencana hidrometeorologi berupa banjir, kekeringan, lonsor dan kebakaran hutan.

Selama tahun 2023 tercatat 4.940 bencana hidrometeorologi terjadi di Indonesia. Efek domino pada sektor pangan pada tahun 2023 sebanyak 57 ribu petani yang mengalami gagal panen.

Hosani Hutapea Manager Sekolah Energi Bersih Kanopi Hijau Indonesia mengatakan bahwa solusi yang pasti adalah transisi energi bersih yang demokratis.

Dengan potensi 363.021 MW dari air, matahari dan angin sangat memungkinkan untuk meninggalkan energi batubara. “Transisi energi yang kita inginkan prinsipnya harus mempertimbangkan Hak Asasi Manusia, memprioritaskan keseimbangan ekologi, bertanggung jawab atas pemulihan ekologi akibat energy kotor. Kemudian diikuti dengan transformasi kebijakan, ekonomi yang beracuan pada keselamatan lingkungan,” jelas Hosani.

Kesadaran kritis rakyat menjadi penentu terwujudnya transisi energi bersih, maka perlu dilakukan penyebaran informasi sehingga isu transisi energi menjadi inklusif.

Sebagai ilmu sosial, Jurusan Sosiologi Universitas Bengkulu (UNIB) mendukung terwujudnya demokrasi energy yang memprioritaskan kepentingan rakyat bukan kepentingan oligarki.

Ketua Jurusan Sosiologi Universitas Bengkulu Heni Nopianti M. Si mengatakan saat ini sedang memulai menanamkan nilai-nilai transisi energi bersih yang adil dan berkelanjutan kepada mahasiswa Sosiologi.

“Lebih lanjut, Jurusan Sosiologi akan mendorong mahasiswa melakukan penyebarluasan isu transisi energy kepada seluruh mahasiswa di lingkup civitas akademika Universitas Bengkulu,” tegas Heni saat diwawancarai di ruang kerjanya. (Rls/01)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *