Alaku
Alaku
Alaku Alaku

Realita Perjuangan Mahasiswa di Kampus Jenaka

Realita Perjuangan Mahasiswa di Kampus Jenaka

Oleh : Abdurrahmat, Mahasiswa STIT SB Pariaman

Alaku

Mahasiswa merupakan anak muda yang belajar di perguruan tinggi yang memiliki wawasan ilmu pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Apabila kita searching di google search mahasiswa memiliki beberapa peran penting seperti agent of change, iron stock, social control dan lain sebagainya.

Agent of change merupakan peranan mahasiswa sebagai agen perubahan. Sejauh mana mahasiswa hari ini dapat melakukan perubahan. Tentu perubahan yang dimaksud adalah membawa perubahan kearah yang lebih baik.

Sedangkan iron stock merupakan peranan mahasiswa sebagai generasi bangsa yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Generasi seperti apa yang akan mahasiswa itu gantikan dan sejauh mana mahasiswa hari ini dapat mewujudkan cita-cita reformasi yang didambakan.

Selanjutnya sebagai social control merupakan peranan mahasiswa sebagai pengontrol sosial. Mahasiswa yang di harapkan sebagai kontrol sosial untuk kemajuan umat dan bangsa. Tetapi hari ini tidak bisa kita nafikkan bahwa mahasiswa lebih cenderung bersikap apatis dan hedonis dalam merespon dinamika sosial dilingkungannya. Mahasiswa hari ini lebih menikmati ketika makan enak, tidur nyenyak, hidup tanpa ada kekurangan yang lebih berarti baginya dari pada memperhatikan kebijakan-kebijakan elit politik yang sangat mungkin menzhalimi hak-hak rakyat menengah kebawah.

Mahasiswa hari ini lebih cenderung mengejar nilai IPK, tapi abai akan kebijakan-kebijakan kampusnya yang menzhalimi hak – hak mahasiswa. Sangat di sayangkan ketika hak-hak mahasiswa yang terzalimi tersebut berasal dari ekonomi menengah kebawah.

Dapat kita abstaksikan bahwa sikap apatisme yang di lahirkan tentu berawal dari ketidakpahaman akan peranan mahasiswa sehingga mereka tidak tau, tidak tau hak dan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa secara umum serta di kampusnya sendiri.

Sejarah panjang perjuangan mahasiswa untuk memenuhi perannya memperjuangkan hak-hak rakyat telah ditorehkan dalam tinta sejarah.

Mahasiswa yang mampu menumbangkan rezim yang tidak pro rakyat di negara ini. Terbukti pada tahun 1966 melahirkan Angkatan 66 yg bercorak gerakan massa menjatuhkan rezim Sukarno, dan juga pada gerakan 1998 yang akhirnya memaksa Presiden Suharto melepaskan jabatannya.

Mahasiswa saat itu mengorbankan apapun segalanya, bahkan nyawa sekalipun. Peristiwa itu di kenang sampai hari ini seperti pada tragedi Trisakti. Hilangnya nyawa beberapa mahasiswa dalam upaya untuk menumpas kediktatoran, memperjuangkan demokrasi serta melahirkan reformasi yang di cita-citakan.

Tampaknya sejarah perjuangan mahasiswa dalam memperjuangkan kaum-kaum mustad’afin itu hanyalah nyanyian nina bobok tidak akan pernah terjadi lagi. Bagaimana tidak, mahasiswa hari ini lebih takut pakaiannya tidak mengikuti trend zaman, takut jika dosennya memberikan nilai jelek karena sikap kritisnya dan takut jika sudah di ancam oleh oknum penjabat kampus ketika mengkritisi kebijakan-kebijakan kampus.

Semoga sosok Wiji Tukul itu masih ada yang membantu kaum-kaum mustad’afin, baik yang terzhalimi oleh kebijakan elit politik pemerintahan di negara ini, yang terzhalimi oleh kebijakan – kebijakan kampusnya, terzhalimi karna hampir tidak ada mahasiswa yang memperjuangkan.

Pendidikan sejatinya adalah memerdekakan manusia, merdeka berpikir, merdeka bertindak dan merdeka dalam memilih bukan malah memperbudak pikiran kita, memperbudak tindakan kita dan memperbudak kita dalam memilih apapun. (Januari 2022)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *