Bukannya Berjaya, Malah Tumpul dan Amburadul
Rafi Dirga Maulana, Padang Pariaman
Tumpul adalah satu kata yang menggambarkan keadaan daerah kabupaten Padang Pariaman saat ini, dimana dari semester pertama hingga ketiga saat ini pun kepemimpinan daerah baru yang menggadang-gadang kabupaten yang “berjaya” malah semakin amburadul.
Padang Pariaman yang berpenduduk 430.626 (BPS 2020) ini malah mengalami penyusutan pertumbuhan ekonomi yang sangat drastis di angka -10,46% ( sumber : PPDA 2021 ), apa daya, salah satu Tameng yang sering menghiasi ketidak cermatan ini hanyalah sebuah kegagalan dengan dalih ” Dek Covid-19″ masih begitu di elu-elukan mereka yang katanya ber-digdaya namun faktanya terlalu pengecut mengakui ketidakmampua nya.
Padahal seharusnya seorang pemimpin wajib mengadministrasikan seluruh potensi kekayaan daerah ini yang secara total luas lahan pertanian nya saja memiliki luas lahan ±78.048 Hektare ( Sumber : SP – Lahan 2019 BPS Kab. Padang Pariaman ) , yang salah satunya belum di usahakan hingga saat ini di angka ±6.147 Hektare.
Ketimbang jeli dengan potensi SDA lainnya yang ada, mereka hanya berselimut dalam Euforia yang tergolong sangat tidak memiliki nilai bertumbuh dan katanya yang “Berjaya”.
Bupati Ceremonial !! ,
Begitu julukan yang sangat pantas di sematkan kepada Kepala Daerah saat ini yang faktanya pada saat Hari Ulang Tahun Kabupaten Padang Pariaman saja, kita hanya dipertontonkan dengan kegiatan yang bahkan tidak menggambarkan ke”berjaya”an yang semestinya.
Belum lagi kita menelaah RPJMD, Persoalan Amdal Tambak Udang, Kasus Megaproyek di masa Defisit Anggaran dan sebagainya , mereka hanya mampu menayangkan kinerja yang tergolong bersifat administratif dan tidak progresif sama sekali.
Apa lagi tantangan di awal tahun dengan munculnya wabah varian baru bergelar OMICRON ini yang pastinya akan berdampak pada dipukul mundur kembali keuangan Daerah yang mungkin saja menjadi Opini andalan mereka lagi yang tak tau harus berbuat apa.
Kita semakin terombang-ambing di lautan kemunduran, sudah seharusnya kita di jamin dengan kesejahteraan karena ; “mereka yang di gaji untuk beri solusi,
malah berlomba mengais validasi
jadi yang paling asri tanpa realisasi,
Di tengah-tengah keterpurukan ekonomi”.
Ditambah lagi tak terasa perhelatan pemilu bahkan pilkada serentak kian dekat. Jangan sampai momentum ini kembali di nodai dengan tanam hutang budi seperti sebatas pencitraan berbagi persenan hingga ke bahan makanan, yang seharusnya kita pada faktanya lapar akan pikiran dan perubahan.
Sejatinya previllege yg dimiliki seorang incumbent menawarkan perbuatan untuk perubahan, bukan hanya sebatas menghadiri peresmian pesta pernikahan.
Februari 2022


















