Bengkulu, Darah Juang Online – Mendengar Istilah “Kafir”, tentu yang tergambar dalam pikiran adalah prilaku umat manusia durhaka kepada tuhannya.
Memperjelas tafsir kata tersebut “Kafir” pemilik akun instagram dengan nama @islah_bahrawi menguraikan dengan jelas agar tidak salah arti.
“Kafir dalam bahasa Inggris diterjemahkan (infidel) adalah kata yang penuh dengan relativitas ukur. Kata Kafir seringkali disematkan kepada pihak yang berbeda dan menolak untuk diajak sama. Kata ini sangat totaliter yang gemar dilekatkan kepada identitas yang tidak jinak. ‘Kafir’ juga sulit diperdebatkan secara etimologis, karena ia bisa sangat lentur tergantung dari wilayah pandangnya. Kata Kafir tidak hanya berlaku bagi yang berbeda keyakinan, tapi juga sering terjadi dalam kesamaan iman,” Tulisnya di akun Istagram nya.
“Semua agama memiliki idiom ‘Kafir’ dan kata ini juga tidak bisa lepas dari label yang tertuju kepada yang sulit dikendalikan, seperti halnya konspirasi pembunuhan oleh Uskup Agung Francesco Salviati terhadap Gioliano de’ Medici di St. Peter’s Basilica dalam Conspirazione dei Pazzi. Bahkan dalam sejarah Islam, Sayyidina Utsman dan Ali dibunuh secara keji oleh mereka yang mempunyai keimanan yang sama setelah sebelumnya terjadi proses pengkafiran. Kata “kafir” hingga hari ini adalah takar-takar yang secara historis tak pernah mengenal kebakuan kategori,”. Sambungnya lagi.
Masih kata pemilik akun @islah_bahrawi “Manusia adalah binatang, seperti halnya Simpanse “kata Dale Peterson dalam buku epiknya, “Demonic Males”. Penuh satir dia menulis; human attack and kill others for no reason except that they are not “one of yu Kata Kafir dalam genealogi sejarah seolah hanya alat manusia untuk menyekat dengan manusia lainnya karena alasan; “mereka bukan kita,”. Jelasnya.
Sebelumnya di ketahui kata “Kafir” memang dimiliki oleh semua agama, tapi bagaimanapun mengkafir-kafirkan tetaplah perbuatan manusia. Atas nama Tuhan manusia memang tidak akan pernah berhenti saling menuding kafir satu sama lain hingga kelak tiba hari Kiamat. Ini watak dasar manusia yang frontal dan segregasional. Karenanya Tabrizi pernah berteriak di Damaskus: “membajak nama Tuhan untuk menghakimi orang lain adalah perilaku manusia-manusia gelisah, yakni orang-orang yang tidak mampu menemukan kasih sayang Tuhan, lalu menciptakan Tuhan dalam dirinya sendiri,” Pungkas Bahri. (20).


















