Bengkulu, Darah Juang Online — Bencana banjir bandang beberapa hari ini telah mengakibatkan beberapa akses jalan masyarakat lumpuh, hingga masyarakat terisolir dibeberapa titik di wilayah Bengkulu Tengah. Minggu (22/1/23)
Hal ini mendapat tanggapan serius dari Mantan anggota DPRD Kota Bengkulu, Heri Ifzan. Jelasnya “Perubahan bentang alam di Kabupaten Bengkulu Tengah, sebagai wilayah hulu dan penyangga sungai – sungai di Bengkulu. Salah satunya akibat adanya aktivitas dari industri ekstraktif Tambang Batu Bara.” Katanya.
Pola pertambangan terbuka maupun tertutup yang dikelola tidak baik dan sesuai aturan. Secara tidak langsung keberadaanya telah mengubah bentang alam wilayah Bengkulu Tengah, banyaknya pohon ditebang, perubahan struktur tanah, peralihan jalur sungai dan sebagainya.
“Seharusnya wilayah yang merupakan bagian penting sebagai punggung Bukit Barisan harus dijaga keberadaan alamnya, akibatnya ketika hujan, bencana banjir dan longsor akan menjadi ancaman bagi semua pihak, khusunya masyarakat sekitar.” Jelas Heri.
Banjir bandang yang kerab terjadi, hingga luapan sungai Muara Bangkahulu hingga mengepung Kota Bengkulu sebagai wilayah hilir sungai – sungai di Bengkulu. Menjadi wilayah terdampak, hal ini akan selalu mengancam jiwa maupun materil kehidupan masyarakat.
Maka, sambung Heri. Hal ini harus menjadi perhatian serius semua pihak baik Pemda Kab/ kota, Provinsi, hingga pemerintah pusat yang terkait dengan usaha pertambangan.
“Apalagi soal tambang ini nggak bisa main-main, disitu ada lingkungan yang akan menjadi korban, banjir yang terjadi ini salah satu penyebabnya aktifitas pertambangan, jadi harus teliti betul apabila mengeluarkan izin pertambangan itu,” ujarnya.
Seharusnya pemerintah daerah tidak mengeluarkan rekomendasi sebelum lahannya dinyatakan clean dan clear, pemerintah pusat juga harus benar-benar melakukan verifikasi faktual, jangan asal menerbitkan izin usaha pertambangan.
“Kalau kita setuju sejumlah tambang yang ada saat ini ditutup saja. Sebab tidak ada kontribusinya itu, yang ada rakyat banyak dirugikan saja,” bebernya.
Secara terpisah, Ketua LPBNU Bengkulu Tengah, Roni Marzuki sangat menyayangkan lambatnya respon pemerintah atas persoalan lingkungan di Bengkulu Tengah dan sekitar.
“Seharusnya Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah sudah memetakan potensi kerawanan bencana, termasuk penyebabnya. Agar persoalan yang telah berulang seperti Banjir yang kerab mengancam kehidupan Masyarakat Bengkulu Tengah, dapat diminimalisir resikonya.” Jelasnya.
Termasuk, kalau keberadaan Tambang dibagian hulu sungai Bengkulu menjadi salah satu faktor penyebab bencana.
“Pemerintah harus serius menata keberadaan Tambang dan perubahan bentang alam, mengingat sebagai wilayah hulu sungai dan merupakan penyanggah bentang alam Bukit Barisan, wilayah Bengkulu menjadi daerah rawan bencana banjir dan longsor.” Tegas Roni.
Roni, menekankan “Semua pihak tidak bisa hanya melihat adanya pertambangan terkait ekonomi semata, tapi kepentingan semua pihak dan sisi kehidupan masyarakat merupakan bagian kunci dalam sebuah sistem pembangunan. Termasuk kondisi lingkungan dan sosial masyarakat.” Pungkasnya.
Diketahui, sejak hari Minggu (22/1/23) bencana banjir telah terdampak di beberapa wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah seperti Rindu Hati, Surau, dan beberapa desa disekitar DAS Bengkulu. (01)

















