Alaku
Alaku
Alaku Alaku

Sambut Lebaran, Masyarakat Kaur adakan Festival Cik Siti dan Sengkure

Kaur, Darah Juang Online — Lebaran Idul Fitri menjadi momen yang berkesan bagi semua orang, terkhusus Kabupaten Kaur yang mayoritas berpenduduk Muslim. Setiap tahunnya lebaran Idul Fitri dirayakan dengan suka cita penuh kegembiraan setelah berpuasa sebulan lamanya.

Pada momentum ini ada tradisi atau kebiasaan unik masyarakat Indonesia terutama di Kabupaten Kaur tepatnya di desa Tanjung Baru dan Tanjung Agung Kecamatan maje Kabupaten Kaur melaksanakan Festival Cik Siti dan Sengkure.

Alaku

Festival Cik Siti merupakan beberapa orang laki-laki yang berpakaian seperti daster, pakaian dalam wanita sampai pada lipstik dan bedak perempuan yang dilaksanakan pada malam Idul Fitri sekitar pukul 22.00.

Dan Festival Sengkure yaitu festival yang terdiri dari 5 sampai 15 orang yang berbentuk Manusia buruk yang diberi hiasi dengan pakaian ijuk, tikar pandan dan tali di seluruh tubuhnya yang dilaksanakan sekitar pukul 14.00 pada hari raya idul fitri di iringi ratusan anak-anak, bapak-bapak, dan ibu-ibu serta dentuman musik mengiringi dari belakang, festival ini melakukan mengelilingi desa tanjung baru dan tanjung agung kecamatan Maje kabupaten kaur.

Inilah Festival Sengkure yang digelar di Kabupaten Kaur, Provinsi Bengkulu. Festival Sengkure merupakan warisan leluhur masyarakat suku nasal yang menempati Kabupaten Kaur.

Rozi Almitra (35) ketua rombongan Festival Sengkure juga Ketua Karang Taruna Desa Tanjung Baru menceritakan sejarah lahirnya festival Sengkure bagi masyarakat Kaur.

“Diawali dengan pada zaman dahulu sebagai tokoh imajinasi manusia sebagai cerita menakutkan untuk menyuruh anak-anak tidur dimalam hari atau menyuruh anak pulang ketika main terlalu larut malam contohnya Nak, cepat pulang kalu gx pulang nanti di culik senggekhamo atau nak cepat tidur nanti di datangi Senggekhamo,” terangnya. Sabtu (23/4/23)

Berjalannya waktu tokoh imajinasi itu dibuat menjadi sebuah bentuk nyata manusia yang menakutkan bernama sengkure yang berbentuk hitam, buruk dan menakutkan sebagai hiburan masyarakat di hari raya idul fitri, kemudian sampai sekarang dilakukan festival sengkure.

Lanjut Rozi Almitra “Sengkure itu orang yang seluruh tubuhnya diselubungi ijuk dan tikar pandan dan tali. Mereka diarak mengelilingi kampung, sekaligus melakukan silahturahim”. Katanya.

Ditempat yang sama, Meki Elyantoni sebagai Penggiat Budaya ditjen kebudayaan RI menyampaikan, Festival Sengkure ini sudah ada puluhan tahun lalu dan dilaksanakan di hari raya idul fitri sekitar pukul 14.00 sebagai bagian dari hiburan masyarakat. “Festival Sengkure ini menjadi salah satu ajang hiburan mengumpulkan banyak orang dengan bersalam-salaman memperkuat silaturrahmi dan bermaaf-maafan apalagi banyak anak rantau pulang kampung bisa terkumpul dalam festival ini.” Menjelaskan.

“Sengkure ini juga berjalan diiringi dengan musik mengitari desa-desa bersalam-salam. Jadi ada pesan mempererat silaturahmi festival Sengkure itu,” tegas Meki Elyantoni.

Festival Sengkure ini juga di lakukan di hari yang sama di kecamatan Nasal Kabupaten Kaur tepatnya desa Tanjung Betuah, desa Gedung Menung dan desa Ulak Pandan dan Mudah-mudahan, festival ini ke depannya menjadi perhatian pemerintah, dan sekarabg dalam proses melengkapi data untuk diusulkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (Wbtb) Kabupaten Kaur kepada dirjen Kebudayaan. Kita juga berharap sengkure kedepannya dapat menyedot minat wisatawan,” tutup meki. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *