Marabahan darahjuang.online – Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ke-37 Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan di Kabupaten Barito Kuala menghadirkan kisah inspiratif dari cabang Tilawah Tuna Netra. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Al-Istiqamah Marabahan, Selasa (23/6/2026), menjadi ajang bagi para qari dan qariah penyandang disabilitas untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam melantunkan ayat suci Al-Qur’an.
Meski memiliki keterbatasan penglihatan, para peserta tetap mampu tampil percaya diri dengan bacaan yang fasih dan merdu. Mereka harus mengandalkan hafalan dalam setiap penampilan, sehingga membutuhkan persiapan yang tidak ringan dibandingkan peserta pada umumnya.
Cabang Tilawah Tuna Netra pada MTQN ke-37 ini diikuti peserta dari sejumlah daerah di Kalimantan Selatan, yakni Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar, Tapin, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru. Sementara tuan rumah Barito Kuala tidak mengirimkan peserta pada cabang tersebut.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah As’ad Syamsul Arifin, qari asal Kabupaten Tanah Bumbu. Pria berusia 24 tahun itu mengaku mengikuti lomba bukan semata-mata untuk mengejar gelar juara, tetapi sebagai bentuk kecintaannya terhadap Al-Qur’an sekaligus wadah bagi penyandang disabilitas untuk menyalurkan bakat di bidang tilawah.
“Ajang ini bukan hanya soal juara, tetapi bagaimana kita bisa ikut menyemarakkan syiar Al-Qur’an. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti belajar dan memperdalam Al-Qur’an,” terangnya.
Mantan santri salah satu pondok pesantren di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, itu mengatakan dirinya tetap optimistis mampu meraih hasil terbaik pada MTQN tahun ini. Bahkan, ia menargetkan bisa menembus tiga besar.
Optimisme tersebut bukan tanpa alasan. As’ad pernah mengikuti perlombaan tilawah tingkat umum di Situbondo dan berhasil meraih juara kedua. Pengalaman itu menjadi modal berharga dalam menghadapi kompetisi tingkat provinsi di Barito Kuala.
Menurutnya, tantangan terbesar bagi peserta tuna netra adalah menghafal ayat yang akan dilombakan sekaligus menyelaraskannya dengan irama tilawah. Karena itu, ia menerapkan metode khusus dalam berlatih.
“Biasanya saya menghafal maqra terlebih dahulu, kemudian menyesuaikannya dengan lagu yang akan dibawakan,” katanya.
As’ad yang sehari-hari aktif belajar dan mengajar Al-Qur’an juga menyampaikan apresiasi atas dukungan dan pembinaan yang diberikan pemerintah daerah. Namun, ia berharap pembinaan bagi peserta tilawah tuna netra ke depan dapat lebih ditingkatkan, terutama dalam menjaring dan mengembangkan bakat-bakat penyandang disabilitas di daerah.
Cabang Tilawah Tuna Netra MTQN ke-37 Tingkat Provinsi Kalimantan Selatan berlangsung selama satu hari dan diikuti 15 peserta yang terdiri dari tujuh qari dan delapan qariah. Mereka bersaing untuk memberikan penampilan terbaik sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berprestasi dan mengharumkan daerah.(14).
As’ad Peserta Tilawah Tuna Netra Tanah Bumbu Optimis Raih Tiga Besar di MTQ Nasional Kalsel

















