Banjarbaru, Darahjuang.online — Kepala Puskesmas Sungai Ulin, drg. Rahmi Sri Nurhayati, memberikan klarifikasi terkait sorotan terhadap pelayanan petugas Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Sungai Ulin dimana saat itu ada seseorang pasien dalam kondisi kritis.
Klarifikasi tersebut disampaikan menyusul pemberitaan dan perhatian masyarakat terhadap pelayanan di Puskesmas Sungai Ulin. Rahmi menyampaikan permohonan maaf sekaligus mengapresiasi kritik dan masukan masyarakat sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan mutu pelayanan.
“Saya drg. Rahmi Sri Nurhayati. Saya di sini kebetulan Kepala Puskesmas Sungai Ulin. Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian kemarin,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak Puskesmas Sungai Ulin berterima kasih atas perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan. Menurutnya, kritik dan saran yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi bagi pihak puskesmas ke depan.
Terkait kronologi kejadian, Rahmi menjelaskan bahwa pada saat pasien datang, sejumlah petugas yang bertugas di layanan UGD sedang mendapat panggilan untuk memberikan pelayanan di ruang Klaster Dewasa serta Klaster Anak dan Remaja. Pada waktu yang hampir bersamaan, sekitar pukul 10.00 WITA, juga sedang berlangsung kegiatan peregangan di area loket.
“Pada saat pasien datang, kebetulan memang pada saat itu pukul 10.00 sedang ada dilaksanakan peregangan yang ada di loket. Itu saja sih, yang lebih ke miskomunikasinya. Jadi sehingga mungkin ada yang mengira bahwa kami berjoget-joget di dalam,” jelasnya.
Rahmi juga memberikan penjelasan mengenai pemeriksaan awal pasien yang dilakukan di dalam kendaraan. Menurutnya, petugas kesehatan yang datang pertama kali merupakan tenaga kesehatan perempuan sehingga mengalami kendala ketika hendak memindahkan pasien ke dalam ruangan.
“Karena kebetulan nakesnya adalah perempuan, jadi sehingga kami tidak bisa mengangkat ke dalam. Minta bantuan kepada bapak sopirnya, belum mendapat respons. Sehingga supaya lebih cepat akhirnya teman-teman mengambil tensi dan pengukuran tanda-tanda vital itu langsung di pick-up,” ungkapnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan awal, pihak puskesmas kemudian merencanakan rujukan pasien ke rumah sakit. Rahmi mengatakan, dokter saat itu menyarankan pasien dirujuk ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis bedah saraf.
Namun, menurut Rahmi, keluarga pasien meminta agar rujukan dilakukan ke rumah sakit di Martapura. Pihak puskesmas kemudian menindaklanjuti permintaan tersebut sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
Mengenai kondisi pasien saat diperiksa, Rahmi menyebut pasien berada dalam kondisi koma. Karena kondisi tersebut membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien tidak dapat ditangani secara maksimal di tingkat puskesmas dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
“Kalau hasil dari pengukuran dokter, itu memang sudah koma pasiennya. Sehingga tidak bisa dilaksanakan penanganan langsung di puskesmas, harus ke rumah sakit,” pungkasnya.(14).


















