Alaku
Alaku
Alaku Alaku Alaku

*KALIMANTAN SESAK, KAPAN KARHUTLA BERAKHIR?*

*Oleh: Syarfani*

Kaperwil Media Darahjuang.online Kalimantan Selatan

Alaku

Setiap tahun, ceritanya selalu sama. Kalender baru saja masuk musim kemarau, langit Kalimantan sudah berubah warna. Tidak lagi biru, tapi kuning keabu-abuan. Bau asap menyelinap masuk ke rumah-rumah, bahkan sebelum pintu dibuka.

Dan lagi-lagi, kita mendengar keluhan yang sama: anak batuk, lansia sesak, sekolah diliburkan.

Karhutla di Kalimantan bukan lagi sekadar bencana tahunan. Ia sudah menjadi luka kronis yang tak kunjung sembuh.

Kita lelah mendengar istilah “titik hotspot meningkat”, “lahan gambut terbakar”, “oknum pembakar lahan”. Yang warga rasakan di bawah jauh lebih sederhana dan menyakitkan: napas mereka dirampas.

Di Rumah Sakit di Banjarmasin, Palangkaraya, Pontianak, Samarinda, Tanjung Selor, antrian pasien ISPA mengular. Yang datang bukan satu dua orang. Seorang ibu menggendong balitanya yang napasnya berbunyi. Seorang kakek menahan batuk dengan masker yang sudah menghitam. Anak-anak SD terpaksa belajar dengan masker, kalau tidak diliburkan sama sekali.

Anak-anak dan lansia selalu menjadi korban pertama. Mereka yang paling lemah, mereka pula yang paling menderita.

Pertanyaannya: sampai kapan?

Kita punya BPBD, Manggala Agni, TNI-Polri, BPK swasta yang heroik berjibaku di lapangan tanpa kenal lelah. Mereka pahlawan sesungguhnya. Tapi mengapa api selalu menang di awal? Mengapa pencegahan selalu kalah cepat dari pembakaran?

Keluhan warga di warung kopi, di pasar, di grup WhatsApp RT itu jujur: “Kami ini sudah capek jadi korban asap. Kami ini hanya ingin menghirup udara bersih di tanah kami sendiri. Itu saja.”

Masalah karhutla tidak bisa lagi dijawab dengan seremoni apel siaga dan spanduk “Stop Membakar Hutan”. Itu penting, tapi tidak cukup.

Warga butuh tindakan yang lebih keras:

Pertama, Penegakan Hukum Tanpa Pandang Bulu.

Jangan hanya petani kecil yang membakar 2 meter lahan yang ditangkap. Kejar cukong, kejar korporasi, kejar siapa pun yang sengaja membuka lahan dengan cara membakar. Umumkan siapa pelakunya, biar ada efek jera.

Kedua, Solusi Permanen untuk Gambut. Selama kanal-kanal gambut masih kering kerontang saat kemarau, gambut itu akan tetap menjadi bom waktu yang mudah terbakar. Pembasahan kembali gambut harus menjadi prioritas, bukan proyek laporan tahunan.

Ketiga, Anggaran Kesehatan Darurat. Jika negara menetapkan status Siaga Darurat Karhutla, maka Puskesmas dan Rumah Sakit juga harus dalam status Siaga Darurat ISPA. Masker gratis, oksigen gratis, posko kesehatan keliling untuk anak dan lansia harus ada di setiap desa terdampak, bukan hanya di kota.

Kalimantan adalah paru-paru dunia. Ironisnya, paru-paru warganya sendiri kini yang sakit karena asap dari tanahnya sendiri.

Kita tidak butuh lagi janji bahwa “api akan segera dipadamkan”. Warga Kalimantan sudah hafal kalimat itu.

Yang mereka butuhkan adalah kepastian: tahun depan, anak-anak mereka masih bisa bermain di halaman tanpa masker, dan para lansia masih bisa duduk di teras tanpa sesak.

Jangan biarkan Kalimantan terus sesak. Karena jika Kalimantan sesak, Indonesia ikut sesak.

 

Opini dirilis pada media DJO (Darahjuang.online) Sabtu (17/10/2026)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *