Sepak Bola di Tanah Haji Tempo Doeloe
Oleh : Agustam Rachman, MAPS.
Pemerhati Sejarah, Menetap di Yogyakarta.
Siang itu sehabis Dzuhur tanggal 10 Agustus 1962, dalam rangka memeriahkan peringatan Proklamasi Kemerdekaan, panitia mengadakan Kompetisi Sepak Bola.
Terlihat rombongan pemain bola keluar dari Penginapan Tanjung Raya milik Ciknang, Pesirah Marga Haji waktu itu.
Posisi didepan rombongan terlihat Pesirah Ciknang bertopi ala koboi dengan keris terselip didepan dada seolah mau perang. Mereka menuju ke lapangan bola (sekarang gedung kesenian Muaradua, Kabupaten OKU Selatan Propinsi Sumatera Selatan).
Para pemain itu adalah kesebelasan Trisakti milik Marga Haji yang dijadwalkan akan berhadapan dengan kesebelasan Pemuda Muslimin (sayap pemuda Partai Serikat Islam Indonesia).
Pertandingan berjalan alot masing-masing kesebelasan tampil ngotot tapi tetap sportif. Diantara pemain Trisakti yang turun ada Gajah Jaghmuda dari Desa Tanjung Raya sebagai kiper, Ilyas dan Bashar dari Desa Surabaya, Haji dan Ali Hasan dari Kota Agung sebagai bek, Jemudi dan Abas Syarkawi dari Desa Peninggiran sebagai penyerang, ada juga Nurhasan, Fa’i Dalom Setia dan Rajamudin Mulya Jaya dari Desa Kuripan.
Sementara Pemuda Muslimin menurunkan beberapa pemain andalan diantaranya Harun sebagai Kapten kesebelasan. Sebenarnya Harun berasal dari Desa Tanjung Raya Haji tapi siang itu dia bermain untuk kesebelasan Pemuda Muslimin.
Walaupun Trisakti sudah menurunkan pemain terbaiknya (misalnya Gajah Jaghmuda adalah kiper terbaik dan Haji meskipun kaki kanannya agak cacat karena pernah digigit babi tapi dia adalah bek yang sulit ditembus) namun apa mau dikata, Trisakti harus menelan kekalahan 5-0 dari Pemuda Muslimin.
Dalam pertandingan itu tanpa diduga pemain Trisakti banyak berjatuhan karena kram kaki, mungkin karena selama ini sering latihan di lapangan kecil dan tidak terbiasa bermain di lapangan standar.
Di ujung lapangan, terlihat Pesirah Ciknang tak dapat menutupi emosinya, mukanya merah padam sementara tangannya tak lepas dari ulu kerisnya.
Usai bertanding, pemain Trisakti istirahat di pinggir lapangan sambil diberi pengarahan oleh Nangcik Radin Mulia sebagai pelatih, tak lupa para pemain diberi minuman air putih yang konon sudah dido’akan.
“Kita pantang pulang sebelum menang”, teriak Mansyur Tokoh Marga Haji yang bekerja di kantor Kejaksaan Muaradua berusaha memompa semangat pemain Trisakti.
Walaupun letih usai kalah berhadapan dengan Pemuda Muslimin, sesuai jadwal sore itu juga Trisakti harus kembali bermain melawan kesebelasan Gapura yang pemainnya anggota polisi diantara pemainnya terlihat ada polisi Sani.
Kali ini Trisakti melibas habis Gapura dengan skor telak 10-0. Banyak orang mengejek Gapura sebab kalah telak oleh Trisakti yang baru saja dipecundangi klub Pemuda Muslimin.
Usai pertandingan hari hampir gelap, Pesirah Ciknang memerintahkan para pemain Trisakti untuk menuju ke penginapan Tanjung Raya untuk makan malam dan istirahat. Kelihatan wajah Pesirah Ciknang puas dan penuh senyum, setidaknya kekalahan melawan Pemuda Muslimin terbayar dengan kemenangan atas Gapura.
“Sore itu para pemain saya jamu dengan makan malam yang spesial dan sangat enak sebagai ucapan terimakasih pada para pemain Trisakti, walaupun kalah dari Pemuda Muslimin tapi berhasil “menggunduli” Gapura” dengan skor telak 10-0″, kisah Pesirah Ciknang dalam wawancara khusus tahun 1997 silam.
Cerita pertandingan diatas adalah gambaran betapa zaman dulu sepak bola merupakan olah-raga yang sangat memasyarakat khususnya di Marga Haji.
Ditiap desa di Marga Haji ada lapangan bola, misalnya di Desa Kuripan dibangun lapangan bola di daerah Pepahan di pinggiran sungai Selabung.
Generasi senior yang kerap bermain bola dilapangan itu ada Somad Cinegeri, Agustam Radin Priyayi, Mangkualam Umar, M. Zen Dalom Prabu, Khatib Cik Aman, Salin Dalom Bangsa dan Harun Hansip.
Sementara yang tergolong generasi muda ada Mahdin, Bahori Haji Sofyan, Abdul Roni, Marwan Meranjat dan Hasan Basri Cik Ola.
Pernah juga kesebelasan sepak bola dari Kaur Bengkulu bertanding di Desa Kuripan dengan kekalahan difihak Kaur dengan skor telak 10-0.
“Sejak saat itu kalau ada klub yang kalah telak disebut Klub Kaur”, ujar Abdurrachman Radin Kesuma (74 tahun) sambil tertawa.
Ada juga cerita lucu, ketika Somad Cinegeri berlari mengejar bola dari arah berlawanan juga berlari dengan kencangnya Salin Dalom Bangsa dengan tujuan yang sama, para penonton tertegun menyaksikan sebentar lagi akan ada tabrakan hebat antar keduanya.
Ternyata diluar dugaan, ketika hampir bertabrakan keduanya melompat menjatuhkan diri, ada yang ke kiri dan ada kanan.
Lalu mereka serentak berdiri dengan kuda-kuda silat (maklum, keduanya adalah guru silat) tentu saja para penonton tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan sepak bola berbonus silat ini.
Pernah juga hampir terjadi musibah besar, mungkin tersinggung akibat guyonan di lapangan sepak bola. Tanpa diduga Harun Hansip menikam Somad Cinegeri dengan pisau cap Garpu.
Untung pisau berhasil ditepis oleh Somad Cinegeri dan pisau dibuangnya ke tanaman pandan berduri Yang banyak tumbuh dipinggir Sungai Selabung.
Mendengar kejadian itu Agustam Radin Priyayi bersama Cik Agus Prabu bergegas mencari Harun untuk memberi hukuman, karena telah membuat malu keluarga besar.
“Beruntung saya segera bersembunyi ke sawah, maklumlah waktu itu saya khilaf karena masih muda”, ujar Harun sambil tertawa terkekeh ketika ditanya tentang kejadian itu.
Untuk diketahui antara Agustam Radin Priyayi , Somad Cinegeri, dan Cik Agus Prabu adalah saudara sepupu. Sementara Cik Agus Prabu adalah saudara kandung Harun.


















