Alaku
Alaku
Alaku Alaku

EMPAT PILAR JAM’IYAH DI BUMI MULTI ETNIS BENGKULU TENGAH

*EMPAT PILAR JAM’IYAH DI BUMI MULTI ETNIS BENGKULU TENGAH*

Oleh

Alaku

Slamet Imam Wakhyudin alumni Makesta IPNU IPPNU Tahun 1990

23 Juni 2026 di Panca Mukti

 

Bengkulu Tengah adalah tanah pertemuan. Daerah multi etnis yang dipeluk oleh beragam budaya dan menjadi penyangga Ibu Kota Provinsi. Letaknya strategis, bukan hanya karena wilayahnya, tetapi karena di bumi ini banyak hati, bahasa, adat, dan pemikiran bertemu dalam satu ruang kehidupan. Maka menjaga Bengkulu Tengah bukan sekadar membangun daerah, tetapi merawat harmoni agar perbedaan tetap menjadi rahmat.

 

Di tengah masyarakat yang majemuk itu, Nahdlatul Ulama hadir sebagai jam’iyah yang unik. NU bukan sekadar organisasi biasa, tetapi rumah besar para ulama, santri, dan umat yang dibangun dengan ilmu, adab, serta perjuangan panjang para masyayikh.

 

Karena keunikannya, NU tidak bisa disamakan dengan pemerintah daerah yang dipimpin oleh dua orang, yaitu bupati dan wakil bupati. Tidak pula dapat disamakan dengan organisasi perangkat daerah yang dipimpin satu orang kepala, ataupun ormas lain yang hanya bertumpu pada satu figur. Dalam tubuh NU, kepemimpinan adalah harmoni empat arah, seperti empat tiang yang menyangga rumah besar agar tetap kokoh diterpa zaman.

 

Maka pimpinan NU itu terdiri dari empat unsur penting: Rois, Katib, Ketua, dan Sekretaris.

 

Seorang Rois haruslah laksana rembulan pesantren, yang cahayanya lembut namun mampu menerangi malam. Ia memiliki kapasitas ulama, matang dalam ilmu agama, serta sedikit memahami politik agar mampu menjaga jam’iyah dari gelombang kepentingan dunia. Sebab ulama tanpa hikmah akan mudah dipermainkan keadaan, dan politik tanpa tuntunan ulama akan kehilangan arah keberkahan.

 

Seorang Katib adalah jantung organisasi. Ia bukan hanya penulis keputusan, tetapi penjaga ruh perjuangan. Katib harus memiliki ilmu keulamaan, memahami benar hakikat Nahdlatul Ulama, serta piawai dalam berorganisasi. Karena sesungguhnya mesin NU sering kali tidak tampak di panggung, tetapi bergerak sunyi dari kecermatan seorang katib. Jika Rois adalah cahaya, maka Katib adalah denyut yang menghidupkan langkah jam’iyah.

 

Seorang Ketua harus tegas dan berani, namun tetap diterima oleh semua kalangan etnis. Pengalaman organisasinya menjadi bekal untuk menyatukan banyak karakter dan kepentingan. Sebab memimpin masyarakat majemuk tidak cukup hanya dengan suara keras, tetapi juga dengan keluasan hati. Ketua NU harus seperti pohon besar: akarnya kuat, batangnya kokoh, dan rantingnya mampu menaungi siapa saja tanpa membedakan asal-usulnya.

 

Dan seorang Sekretaris haruslah cerdas, teliti, serta matang dalam pengalaman organisasi. Ia adalah perangkai irama administrasi dan penghubung antar langkah perjuangan. Karena organisasi besar tidak hanya dibangun oleh pidato, tetapi juga oleh ketelitian, komunikasi, dan kecerdasan menjaga arah perjuangan agar tetap tertata.

 

Inilah balaghah kepemimpinan dalam NU:

Rois menjaga ruhnya,

Katib menghidupkan mesinnya,

Ketua menguatkan geraknya,

dan Sekretaris merapikan jalannya.

 

Jika keempatnya berjalan seiring, maka NU akan menjadi seperti taman ilmu yang meneduhkan masyarakat. Tidak mudah goyah oleh fitnah, tidak mudah pecah oleh perbedaan, karena seluruh langkahnya dibangun di atas keikhlasan dan cinta kepada umat.

 

Semoga Nahdlatul Ulama di Bengkulu Tengah selalu dipimpin oleh orang-orang terbaik, yang bukan hanya pandai memimpin manusia, tetapi juga takut kepada Allah. Sebab organisasi yang dibangun dengan ilmu dan adab akan melahirkan kemuliaan, sedangkan organisasi yang dibangun hanya dengan ambisi akan mudah kehilangan arah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *