Foto Pengurus LPBI NU dan Sekertaris Nu Benteng Meninjau
Alat Pengering Berbahan Baku Sampah
Bengkulu Tengah, Darah Juang Online – Pemerintah sering mengeluhkan warganya yang bandel membuang sampah sembarangan. Lebih geram lagi jika sampah-sampah itu dibuang di aliran sungai.
Sampah yang dibuang di aliran sungai dapat mengakibatkan penumpukan sampah di bagian hilir. Akibatnya, genangan air tidak terelakkan sehingga menyebabkan banjir. Banjir model ini sering di sebut banjir kiriman atau banjir bandang.
Selain itu, air tercemari oleh sampah mengakibatkan ekosistem air mati. Seperti: ikan, tumbu-tumbuhan air, udang dan lainnya. Bahkan, akibat tercemari oleh sampah air tidak layak di konsumsi manusia. Hal ini akan berpotensi manusia kehabisan sumber air bersih.
Jika musibah terjadi. Seperti: banjir, rusaknya ekosistem air, kehilangan sumber air bersih ribut besar terjadi. Saling tuding, saling salahkan tidak terelakkan. Pemerintah menyalahkan masyarakat, masyarakatpun menyalahkan pemerintah atau pihak tertentu menyalahkan pihak lainnya. Harapan bantuan bencana datang dinanti-nanti.
Sebetulnya, saling tuding atau saling menyalahkan tidak perlu terjadi. Jika semua pihak menyadari, bahwa melestarikan lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.
Mengelola sampah salah satu bentuk melestarikan lingkungan. Konsepnya sederhana: cintai lingkungan, berpikir kreatif, dan inovatif. Dengan mencintai lingkungan terpikir dalam diri adalah berusaha menjaga kelestarian lingkungan. Persoalan sampah diselesaikan dengan cara berpikir kreatif agar tidak menjadi masalah. Selanjutnya, kreativitas dikembangkan menjadi sesuatu yang baru atau berinovasi.
Konsep cintai lingkungan, kreatif dan inovatif di tawarkan oleh Wakil Ketua 1 Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim LPBI NU Bengkulu Tengah (Benteng), Linggar Pramudiono.
Usai rapat membahas pembentukan satuan tugas (Satgas) penanganan bencana LPBI NU Benteng Minggu (11/09/22) sore Linggar Pramudiono mengatakan memang sulit menumbuh ngembangkan kesadaran diri menjaga kelestarian lingkungan.
“Kita tidak boleh marah jika melihat ada yang membuang sampah sembarangan. Mereka belum sadar apa yang mereka lakukan membahayakan dirinya sendiri. Tugas kita adalah menjaga, merawat bumi melestarikan lingkungan dengan karya. Bentuk karyanya adalah menginovasi sampah-sampah menjadi produk berharga. Seperti dari sampah kita ciptakan teknologi,”. Kata Linggar Pramudiono.
Pandangan hidup yang disampaikan Linggar Pramudiono diimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan hasil karya nyata inovasi sampah menjadi teknologi pengering yang telah dibuatnya.
Teknologi pengering, berbahan baku sampah kaleng aluminium disusun menggunakan isolatip dari aluminium (Mediator pengantar panas) diposisikan tegak miring menuju mediator pengering (Kotak pengering) mampu mampu mengantarkan panas menuju kotak pengering 50 – 70 derajat celcius.
Hasil uji coba rancangan teknologi pengering berbahan baku sampah kaleng aluminium ini mampu mengeringkan sorgum, benih cabe dan lainnya.
Keunggulan teknologi pengering ini adalah tidak terkendala hujan dan panas, panasnya lebih tinggi, tidak butuh listrik, biaya ringan, multi fungsi sebagai media pengeringan dan lainnya.
Pengembangan teknologi pengering ini berdasarkan teori tekanan panas dari bawah ke atas. Panas dapat mengalir dari bawah ke atas. Panas bumi dapat mengalir ke atas karena mendapat tekanan udara dari bawah ke atas sehingga titik panas mengumpul di bagian atas.
Dari teori tersebut di atas, dirancang mediator penghantar panas disusun miring menuju kotak pengering agar laju tekanan panas dari bawah lebih cepat.
Ketua LPBI NU Benteng, Roni Marzuki mengapresiasi karya nyata invovasi sampah menjadi teknologi pengering yang diciptakan anggotanya. ia (Roni Marzuki) mengatakan berharap agar seluruh anggota LPBI NU Benteng dapat mencontoh kreativitas dan inovasi Linggar Pramudiono
“Saya berharap seluruh anggota LPBI NU Benteng mampu berinovasi memanfaatkan sampah menjadi produk yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Memanfaatkan sampah menjadi produk bermanfaat bagi manusia adalah bagian pencegahan terjadi bencana,”. Kata Roni Marzuki.
Selanjutnya, Roni Marzuki berharap pemerintah dapat merespon positif kegiatan yang dilakukan oleh LPBI NU Bengkulu Tengah.
“Kita berharap pemerintah dapat merespon positif kegiatan LPBI NU Bengkulu Tengah. Dua pola LPBI NU Bengkulu Tengah menangani bencana yaitu: pencegahan dan penanggulangan,”. Jelas Roni Marzuki.
Selanjutnya Roni Marzuki juga menjelaskan bahwa pihaknya masih banyak mengalami kendala saat menjalankan tugas-tugas kemanusiaan menangani bencana.
“Pencegahan bencana, pemberdayaan masyarakat melestarikan lingkungan dengan mengelola sampah menjadi hal-hal bermanfaat. Penanggulangan, menggerakkan anggota membantu warga terdampak bencana. Hanya saja kita masih banyak kelemahan diantaranya: perlengkapan, peralatan dan pendanaan operasional menjadi kendala,”. Tutup Roni Marzuki. (00).

















