Nasional, Darah Juang Online — Sesuai pemberitaan sebelumnya, di jadwalkan Presiden Joko Widodo akan melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Bengkulu pada tanggal 19 – 20 Juli 2023, dan akan berkunjung ke beberapa kabupaten salah satunya Kabupaten Bengkulu Tengah.
Menyambut kunjungan tersebut, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU Bengkulu Tengah, Roni Marzuki, menyampaikan hal penting ini kepada awak media “Ini momen yang baik untuk Provinsi Bengkulu, dalam menyambut kunjungan kerja Presiden Joko Widodo. Namun ini juga kesempatan yang baik menyampaikan secara langsung persoalan yang ada di daerah khususnya di Kabupaten Bengkulu Tengah.” Katanya, pada Rabu (19/7/23) pagi melalui pesan singkat WhatsApp.
Ancaman bencana alam seperti banjir, tanah longsor telah menjadi momok bagi masyarakat Bengkulu Tengah.
Tentu bencana ini harus dijelaskan secara Ilmiah “Ancaman bencana alam yang terus terjadi di Bengkulu Tengah telah menjadi PR besar semua pihak, tidak hanya telah memakan korban material, bahkan korban jiwa.” Kata Roni.
Menurutnya, hal ini terjadi karena rusaknya alam oleh manusia “Alih fungsi bentang alam di bagian hulu sungai oleh Pertambangan, dan perkebunan sekala besar. Menjadi salah satu faktor utama bencana alam di Bengkulu Tengah terus terjadi.” Terangnya.
Sejak 2009 hingga 2023, setidaknya telah menjadi fase krisis perubahan kondisi alam di Bengkulu Tengah. Masuknya industri ekstraktif seperti Pertambangan Batu Bara telah berdampak serius dan nyata bagi alama di Bengkulu Tengah.
Hal ini harus menjadi perhatian serius Pemerintah, khusus Pemerintah Pusat yang dalam hal ini telah andil besar dalam pemberian izin bagi hadirnya pertambangan dan perkebunan di Bengkulu Tengah.
Termasuk sejak otonomi daerah, keran masuknya investasi ke daerah juga terbuka luas namun tidak di imbangi dengan kebijakan yang baik atas resiko bencana dan analisis bencana, oleh kebijakan Pemda yang hanya berorientasi dengan kepentingan ekonomi.
Perubaha DAS Bengkulu yang kini tergolong sumber air dengan katagori tercemar dan kurang layak sebagai sumber bahan baku utama PDAM, telah mengancam hajat hidup masyarakat di Kota Bengkulu. “Semua mengetahui bagaimana kondisi DAS Bengkulu hari ini, sudah sangat keru, kotor, dan bahkan sudah tercemar berbagai zat. Salah satunya akibat banyaknya aktifitas industri yang bersentuhan dengan DAS Bengkulu, sedangkan semua mengetahui DAS Bengkulu juga menjadi sumber utama PDAM yang nantinya akan mempengaruhi hajat banyak orang di Kota Bengkulu.” Tegas Roni, yang juga ketua LPBI NU Benteng.
“Semoga dengan hadirnya Presiden Joko Widodo, PR besar bersama ini juga dapat menjadi perhatian serius oleh Pemerintah Pusat.” Tutup Roni. (01)

















