“Transformasi Perilaku Jokowi dalam Kepemimpinan Politik di Indonesia”
(Noval Prasetyo, M.IP – Wakil Direktur Bidang Politik dan Kebijakan PP PRIMA DMI)
Menjelang beberapa saat – tepatnya 10 bulan lebih periode kepemimpinannya sebagai Presiden akan berakhir, Jokowi telah memperlihatkan transformasi perilaku yang begitu signifikan. Sosok yang mampu memenangkan Pilpres dua kali berturut-turut pada tahun 2014 serta 2019, juga telah berhasil memukau kita semua dengan akrobat politik yang dilakukannya. Perlahan tapi pasti Jokowi menanggalkan topeng yang selama ini dikenakan, dan menampilkan wajah aslinya ke hadapan publik Indonesia yang sudah terpukau dengan kelihaian permainan politiknya.
Jokowi mampu menjadi seorang Presiden tanpa embel-embel Ketua Umum parpol, disertai dengan cap miring sebagai “Petugas Partai” yang sampai saat ini masih dilekatkan pada sosoknya. Meskipun begitu dia mampu meng-erosi demokrasi yang dibuktikan dengan membuat seorang Megawati yang merupakan Ketua Umum PDIP, mesti menyampaikan pidato dengan pernyataan cukup menyentil. Sebuah gambaran psikologis yang dinilai memperlihatkan kepanikan seorang Megawati, yang notabenenya dikenal matang dalam mengelola konflik.
Kepiawaian Jokowi sebagai pemain politik turut di-amin-kan Panda Nababan – salah seorang senior – dalam jajaran politisi di internal PDIP. Menurut Panda Nababan dalam acara podcast YouTube Abrahamsamadspeakup pada 1 November yang lalu, Jokowi adalah sosok pemain serta paham dengan teater. Dalam konteks politik perilaku seorang politisi di atas panggung (front stage), berbeda dengan yang ditampilkan di belakang panggung (back stage). Inilah yang disebut Erving Goffman dalam mahakarya berjudul The Presentation Of Self in Everyday Life,sebagai konsep Dramaturgi.
Menjadi seorang Kepala Negara sekaligus Kepala Pemerintahan menunjang Jokowi untuk semakin menyelami beragam karakter, serta kepribadian yang dekat ataupun jauh dengan dirinya. Dari kacamata politik khususnya kepemimpinan politik posisi Jokowi yang merupakan orang nomor satu di Indonesia, memberikan akses untuk memetakan siapa yang menjadi lawan – kawannya untuk mewujudkan berbagai tujuan politisnya. Semisal dalam megaproyek pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) yang sampai hari ini, telah membelah publik (baik elite maupun massa) di Indonesia untuk membentuk kubu pro dan kontra.
Sebagai Kepala Negara yang memimpin beragam etnis, bahasa, dan budaya, Jokowi merepresentasikan kemajemukan/multikulturalisme, dalam interaksinya bersama Kepala Negara lain. Selaku Kepala Pemerintahan yang mengarahkan 30-an lebih Kementerian dan lembaga pemerintahan, Jokowi justru bebas menggunakan berbagai pendekatan dalam mencapai apa saja yang dikehendakinya. Sebut saja fenomena pencalonan pasangan Capres-Cawapres yang telah menyedot atensi, tidak hanya dari dalam namun juga luar negeri. Masih ingatkan betapa tegasnya Jokowi menyatakan bahwa ia akan cawe-cawe terkait hal tersebut?
Salah satu pemeo yang kini hanya tinggal kenangan berkaitan dengan transformasi perilaku Jokowi sehubungan kepemimpinan politiknya adalah ungkapan: Yo Ndak Tau Kok Tanya Saya (YNTKTS). Ungkapan yang berawal dari todongan wartawan kepada Jokowi yang saat itu menjabat Gubernur DKI Jakarta, dan melarikan diri dari serbuan pers yang mengajukan pertanyaan. Mengaitkan pemeo tersebut dengan transformasi perilaku Jokowi dalam gonjang-ganjing Republik di tengah kepemimpinan politiknya akhir-akhir ini, seolah-olah Jokowi menertawakan kita semua karena dulu sering mencemoohnya dan sekarang keadaan berbalik.
Pada saat berkendara di jalan raya dalam kondisi lalu lintas yang padat dan ramai disertai angkot yang mengerem mendadak kata-kata yang bisa kita ucapkan: “hanya Tuhan dan sopir angkot yang tahu”. Begitu pun hal nya dengan pertanyaan kenapa terjadi transformasi perilaku Jokowi dalam konstelasi perpolitikan di tanah air seperti sekarang. Jawaban yang dapat dikemukakan: “hanya Tuhan dan Jokowi yang tahu (persisnya)”. Namun patut diduga keras bahwa berubah nya perilaku Jokowi dalam memimpin politik – pemerintahan belakangan ini disebabkan beberapa hal.
Pertama, kelanjutan berbagai kebijakan yang telah dimulainya terutama IKN, yang semula di Jakarta kemudian dipindahkan ke Kalimantan. Sebagaimana yang sering disampaikan Jokowi hal ini adalah dalam rangka pemerataan, serta antisipasi tenggelamnya pulau Jawa dimasa yang akan datang. Kedua, demi mengamankan posisi nya pasca berkuasa sebagai orang nomor satu di republik. Kemenangan Jokowi dalam dua kali gelaran Pilpres dikarenakan faktor relawan (politik), meskipun dirinya masih bagian dari partai politik (parpol) yakni PDIP. Sampai saat ini Jokowi tidak menempati posisi strategis di internal PDIP, sehingga dia butuh penyelamat dikala menghadapi kesulitan atas langkah-langkah politik yang diambil sebelum-sebelumnya.
Ketiga, dan yang paling masuk akal bahwa sejatinya Jokowi adalah seorang pemain politik ulung. Semenjak mulai berkiprah dalam dunia politik – pemerintahan di tahun 2005 yang lalu Jokowi pada dasarnya telah mengkaji berbagai kemungkinan, yang salah satunya adalah kesempatan menjadi seorang Presiden. Dilengkapi faktor sebagai pengusaha yang memang membuat dirinya bertemu serta berinteraksi dengan berbagai pihak yang tidak hanya berbicara keuntungan (kecil) Jokowi mengincar keuntungan besar sebagai Presiden dengan kekuasaan yang akan digenggamnya ketika menjadi Presiden. Maka, saya dalam tulisan ini hendak mengajak untuk: maafkanlah Jokowi !!
Di Publis oleh Media darah Juang Online, pada Hari Minggu (3/12/23).


















