Alaku
Alaku
Alaku Alaku

Rindu Hati “Bocah Hebat: Naik Bukit Turun Bukit”

Bengkulu Tengah, Darah Juang Online – Perjalanan tim liputan kali ini melihat keindahan desa wisata Rindu Hati. Desa Rindu Hati adalah salah satu desa wisata yang terletak di Kecamatan Tabah Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu.

Desa Rindu Hati, memiliki potensi wisata alam yang cocok untuk memanjakan mata. Areal persawahan yang menjadi corak pemukiman warga di sekitar desa.

Alaku

Hal yang lebih menarik mata untuk bersantai adalah tepat di penghujung desa ada dua air besar yang saling bertemu bermuara di desa tersebut. Selanjutnya, air mengalir di sepanjang pinggiran desa.

Pemerintah desa yang dipimpin Bapak Sutan Muklis, SH cukup kreatif. Melihat corak desa yang penuh dengan potensi keindahan alam dibangun menjadi objek wisata.

Salah satunya Arum jeram. Arum jeram menjadi tujuan wisata lokal untuk menguji nyali derasnya air tersebut.

Menariknya potensi wisata di desa ini, ada hal lain yang membuat tim liputan tergelitik hati. Kami terpesona dengan areal perbukitan tidak jauh dari desa. Disini kami menemukan lokasi perkebunan cukup subur.

Dua jam menelusuri areal perkebunan cukup melelahkan. Waktu itu, Minggu (13/06/21).

Hujan badai naik bukit turun bukit tidak mengurangi semangat kami. Pulang turun bukit menuju desa tepat sekira pukul 17.00 Wib hujan deras membuat pakaian yang kami pakai basah kering di badan.

Diperjalanan kami bertemu dengan seorang ibu muda berjalan kaki sendiri. Terlihat ia terburu-buru berjalan menuruni bukit menuju desa.

Sesekali ia menoleh kebelakang sambil menahan beban berat bawaannya. Akhirnya, kami pulang bersama ibu tersebut sambil ngobrol soal perkebunan.

Tidak lama kemudian, menyusul dua orang bocah sekira bersusia dibawah dua belas tahun. Seluruh pakaian kedua anak ini terlihat basah dan penuh dengan lumpur. Tetapi yang membuat hati kami gemelitik adalah kedua anak ini tidak kelihatan kedinginan, capek atau menampilkan raut wajah sedih.

Canda, tawa dan semangat menghiasi senyum kedua anak desa ini.

Penasaran dengan kedua anak tersebut, kami coba mengakrabkan diri dengan berdialog ringan.

Adex dari mana? Tanya kami
Kami dari kebun bang, ikut ibu. Jawabnya.

Ternyata kedua anak tadi adalah putra dari ibu muda yang berbarengan pulang bersama kami sejak setenga jam lalu.

Siapa namanya dex? Tanya Tim liputan.
Nama kami Hamsa, dan yang kecil itu adex saya namanya Amzo. Saya sekolah kelas tiga naik kelas empat. Adik saya kelas satu. Jawab salah seorang bocah tersebut sambil membawa dua ekor burung.

Kenapa kalian tidak sekolah? Tanya Tim liputan kembali.

Setelah corona, kami cuma sekolah dua hari selanjutnya kami ikut ibu ke kebun. Jawabannya.

Diselah-selah obrolan kami bersama anak tersebut ibu muda tadi mengucapkan sesuatu.

Ya pak, setiap hari saya bawak anak-anak ke kebun. Kalau ditinggalkan di desa kami takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Meski mereka capek tiap hari berjalan naik bukit turun bukit dengan menempuh perjalanan tiga jam mereka lebih aman di kebun bersama kami. Jelasnya.

Mewabahnya covid-19, anak-anak belajar di rumah. Karena takut ada pengaruh buruk dengan anak-anak selama pandemi covid-19 kami ajak ke kebun,”. Jelasnya.

Mendengar cerita ibu muda ini, kami merasa tersentuh dengan keluarga kecil ini. Keluarga ini tampak bahagia dengan kesederhanaan, anak-anak terlihat ceria meski tanpa bermain dengan alat-alat teknologi canggih seperti hp dan lain-lain. Anak-anak ini berbeda dengan anak-anak yang ada di perkotaan sering kami temui.

Sepanjang perjalanan pulang, kedua anak tadi kami lihat ramah dan ceria, di curah hujan tinggi kedua anak ini asik bermain pelosotan diruang bekas ban motor milik mang ojek hasil panen petani. Fisik mereka terlihat kuat, tubuh mereka terlihat telah bersabat dengan cuaca hujan dan panas. Mereka anak yang hebat.

Dalam benak pikiran kami, kami kalah dalam hal fisik dengan bocah-bocah yang periang ini. Mereka tahan dingin tidak terlihat letih meski jalan terjal naik bukit turun bukit dilewati berjam-jam. Sementara kami, orang-orang yang telah dewasa rasanya akan pingsan dijalan.

Melihat kedua bocah ini kami melihat ada perbedaan antara bocah seusianya di lingkungan perkotaan. Diperkotaan, bocah berusia empat tahunan sudah mengkonsumsi alat teknologi informasi canggih.

Akibat yang menonjol dari kebiasaan bocah terlalu banyak bermain teknologi canggih adalah kecanduan teknologi informasi. Misal: kecanduan bermain game. Bahkan tidak sedikit anak-anak seusia ini terperangkap dengan adegan-adegan forno aksi atau forno grapi yang beredar di dunia maya.

Hal ini tentu perpengaruh pada mental dan moralitas anak. Selain itu, perbedaan ketahanan fisikpun berbeda, coba bayangkan jika anak-anak perkotaan beraktivitas seperti kedua bocah tadi.

Kami pikir anak perkotaan akan lebih mudah keletihan mengakibatkan sakit.

Melihat perbedaan kehidupan anak-anak perkotaan dan desa. Kami pikir kebijaksanaan orang tua dalam mendidik anaklah yang dapat menentukan baik dan buruknya masa depan anak. (01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *