Roni Marzuki
Bengkulu, Darah Juang Online – Tampaknya masih banyak orang yang belum mempercayai bahwa wabah virus corona (covid-19) benar-benar ada dan nyata. Saya salah seorang yang aktif terlibat dalam penanganan covid-19. Karena saya adalah seorang jurnalis.
Dimulai aktif mengikuti petugas mensosialisasikan penerapan protokol kesehatan, ikut aktif memantau perkembangan covid-19 diwilayah kerja kami Provinsi Bengkulu, ikut memantau perkembangan korban covid-19 baik yang sedang isolasi mandiri maupun ada yang tidak bisa disembuhkan hingga sampai ke pemakamannya dan pelaksanaan kegiatan vaksinasi covid-19.
Hasil pantauan kami, minat warga ingin divaksin cukup tinggi. Bahkan ada yang mencoba menghubungi kami ingin mendapatkan vaksinasi jalur pintas, karena mereka tau kami memiliki akses untuk proses vaksinasi covid-19 lebih cepat.
Namun demikian, kami melihat minat warga yang ingin di vaksin ini bukan karena ingin selamat dari covid-19. Tetapi lantaran takut dipersulit pemerintah jika ingin berurusan berkaitan dengan administrasi. Misal membuat SIM, menerima bantuan dan lain-lain.
Hal ini ditunjukkan oleh, beberapa orang warga yang sempat kami wawancarai saat kami memantau proses vaksinasi covid-19 jawabannya hampir seragam. Ingin mendapatkan sertifikat vaksin covid-19.
Melihat persoalan kemanusiaan percaya atau tidaknya virus corona itu ada dan nyata. Sebagai orang yang selalu menyaksikan kejadian nyata dilapangan berdasarkan hasil temuan kami saat bertugas. Dirasa perlu menjelaskan bahwa covid-19 benar-benar ada.
Jurnasil, salah satu profesi yang memiliki jam terbang tinggi. Mobilisasi massa tidak bisa dihindarkan. Bertatap muka, bertemu langsung dengan banyak orang tidak bisa terelakkan. Wajar jika banyak kawan-kawan jurnalis terpapar covid-19. Saat ini, dikabarkan ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Atal Depari satu keluarga berjumlah 12 orang diduga terpapar covid-19.
Di Bengkulu, salah seorang sahabat kami jurnalis dari Radar Selatan, Icha sempat terpapar covid-19 selama 11 hari.
Icha dinyatakan positif covid-19 sejak Tanggal 27 Juni 2021. Kemudian hasil swab antigen pada Tanggal 7 Juli 2021 ia dinyatakan negatif.
Sebagai sesama rekan jurnalis, tentu saja teman kami Icha terbuka untuk bercerita meskipun itu soal pribadi.
Kepada kami Icha menceritakan, sebelum dinyatakan positif covid-19 ia merasakan gejala gejala ringan: hilang penciuman, batuk, pilek dan badan ngilu.
“Selama terpapar covid, saya mengalami gejala ringan, hilang penciuman, batuk, pilek dan badan ngilu. Namun sebelum tahu positif, saya lebih dulu mengalami demam tinggi” Kata Icha.
Kamipun penasaran bagaimana sahabat kami bisa dinyatakan negatif covid-19 dalam waktu yang cukup singkat. Icha, tidak ragu-ragu menceritakan semua pengalamannya saat terpapar covid-19.
“Alhamdulillah berkat dukungan support kawan-kawan seprofesi, keluarga saya selalu berpikir positif bahwa saya akan segera sembuh. Selain itu, saya menyibukkan diri guna mencegah kebosanan, saya mengisinya dengan berkebun di areal pekarangan rumah, mendengarkan lagu kesukaan, dan sesekali menonton drama korea, berolahraga ringan. Saya mencoba menjauh dari informasi meresahkan yang beredar di televisi, maupun media sosial. Setelah dinyatakan negatifpun saya masih mengurangi aktifitas di luar rumah dan membatasi interaksi dengan orang lain” Jelas Icha.
Selain, Icha Sahabat kami SN juga pernah mengalami terpapar covid-19. Namanya saya inisialkan karena ia meminta tidak disebutkan namanya. SN salah seorang tenaga kesehatan (Nakes). Ia diisolasi mandiri di rumahnya selama 14 hari.
Selama SN diisolasi mandiri, boleh dikatakan setiap hari jika ada waktu kami telponan. Ya, sebagai seorang teman saya harus selalu memberikan support kepadanya agar mempercepat kesembuhannya. Sisi lain, saya selaku jurnalis ingin selalu mendapat data akurat dari narasumber. Mungkin ini juga alasan saya setiap hari menghubungi SN melalui telpon.
SN menceritakan, tidak ada gejala atau tanda-tanda awal bahwa ia akan positif covid-19. Mengetahui positif covid-19 pun saat ada program swab antigen di puskesmas tempat ia bekerja.
“Tidak ada gejala apapun. Namun hasil swab antigen positif. Setelah itu saya diisolasi mandiri. Disaat isolasi mandiri, saya ngerasa penciuaman saya berkurang. Tubuh pegal-pegal, lidahpun tidak bisa merasakan sesuatu. Badan sering terasa menggigil seperti demam” Kata SN.
Selanjutnya SN mengungkapkan merasa bersyukur rekan-rekan kerjanya, keluarga dan sahabat selalu memberikan support dan dukungan kepada dirinya yang sedang mengalami kesendirian lantaran diisolasi mandiri.
“Saya bersyukur, kawan-kawan, keluarga dan rekan-rekan kerja selalu memberikan support agar saya segera sembuh. Termasuk mas. (“Dia mengatakan saya ikut mensuportnya karena sering menelepon. Hal ini membuat saya rada-rada malu. Hehehehe wajar saja, dia seorang Nakes yang cantik”). Setiap hari, ada kawan berkunjung. Meski kami tidak bisa bertatap muka langsung. Kami hanya bercerita di batasi oleh tembok, tetapi menurut saya mereka sudah hadir dan membuatku senang. Meski mereka cuma datang membawa sedikit bingkisan seperti vitamin dan makanan asupan gizi untukku” SN menyambung kembali ceritanya.
Selain itu, Saya bersama Kanda Zacky Antony sempat mewawancarai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu, Herwan Antony. Waktu itu, Kanda Zacky Antony masih menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Bengkulu.
Dalam wawancara itu, Herwan Antony menjelaskan wabah virus corona (covid-19) itu benar-benar ada.
“Covid-19 ini benar-benar ada. Pemerintah sedang berupaya menanggulangi wabah ini. Wabah ini bukan rekayasa politik pemerintah. Wabah ini, dapat menyebar dengan mudah melalui udara, oleh karena itu disarankan menggunakan masker agar terhindar dari penyebaran udara saat kita menghirup udara. Disarankan juga sering cuci tangan setelah beraktivitas agar mengurangi resiko kemungkinan ada virus di tangan. Sehingga saat kita memegang makanan lalu makanan kita makan. Di makanan tersebut virusnya telah dimusnahkan” Kata Herwan Antony saat itu.
“Wabah ini sangat mudah menyerang orang-orang yang memiliki imunitas tubuh lemah. Solusi terbaik agar kita terhindar dari wabah ini. Jaga kebersihan, jaga pola makan, boleh juga mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat membantu meningkatkan imunitas tubuh seperti: jahe merah, daun sungkai dan lainnya. Perlu kita pahami jika ada kerabat, tetangga atau keluarga yang terpapar covid-19 jangan malu. Covid-19 bukan aib, sampaikan dengan pihak tim kesehatan agar bisa dilakukan tindakan medis untuk di obati” Jelas Herwan Antony kembali.
Dari perjalanan kami selama ikut aktif memantau perkembangan covid-19 diwilayah kerja kami Provinsi Bengkulu. Dapat dijelaskan bahwa covid-19 ini benar-benar ada dan nyata.
Sangat bijaksana, jika ada saudara atau tetangga kita yang sedang terpapar covid-19 jangan dijadikan buah bibir. Karena mereka tidak memiliki aib. Covid-19 bukan aib. Covid-19 dapat menyerang siapapun.
Agar serangan covid-19 berhenti hanya sampai kepada saudara atau kerabat kita yang sedang terpapar, kita berikan dukungan moril. Apabila perlu kita lakukan pemberian makanan-bergizi atau vitamin agar mempercepat proses penyembuhannya. (00/Roni Marzuki)


















