Pohon Damar di Tanah Haji, Sumatera Selatan
Oleh: Agustam Rachman
Pemerhati Budaya, Menetap di Yogyakarta.
Pohon Damar yang nama latinnya “Agathis Dammara” sangat erat dengan kehidupan pada masyarakat Suku Haji di Kabupaten OKU Selatan, Propinsi Sumatera Selatan.
Sekitar tahun 1980-an kebun damar masih mudah ditemukan di daerah pedesaan, tercatat yang banyak memiliki pohon damar di desa Kuripan Kecamatan Tiga Dihaji diantaranya: Jalang Mangku, Khatib Cik Aman dan Puting Ratu.
Pohon damar yang dapat diambil getahnya jika sudah berumur diatas 15 tahun.
Cara memanennya dengan melukai bagian batang agar getahnya mengalir.
Tapi aliran getahnya tidak sampai jatuh seperti getah karet. Getahnya hanya akan keluar perlahan, menggumpal dan mengeras disekitar kulit pohon yang dilukai.
Lama-kelamaan karena seringnya dilukai ditempat yang sama, bekasnya akan membentuk lubang dalam bahkan lubang itu bisa sebesar setengah bola volly.
Memanen damar pada suku Haji disebut dengan “Nakah” (Menakah) damar.
Asal kata Menakah dari alat untuk memanen getah damar yang disebut “Penakah” yaitu sejenis besi beliung yang bergagang kayu berfungsi sebagai alat untuk melukai lobang dipohon sekaligus untuk mengeruk damar yang sudah menggumpal untuk selanjutnya ditadah dengan wadah yang disebut “Tempalung” terbuat dari anyaman pelepah pinang bagian pangkal.
Alat lain yang dipakai adalah rotan anyaman yang disebut “Angkot”. Ukuran panjangnya disesuaikan dengan tubuh orang yang memanen. Rotan ini dilingkarkan pada pohon damar secara longgar lalu ujungnya diikat kuat saat memanen. Harus longgar karena tubuh si pemanen akan turut masuk dalam lingkaran itu.
Posisi tubuh pemanen akan miring sekitar 75 derajat, kedua kakinya akan bertumpu pada lobang yang terletak dibagian bawah pohon.
Sementara bagian pinggang si pemanen akan bertumpu pada rotan. Pada saat memanen, rotan harus kencang, hal ini sangat penting sebab saat pemanen berpindah posisi dengan memutarkan rotan atau menaik-turunkan rotan, seringkali terjadi kecelakaan, dimana jika tubuh pemanen kurang miring dan rotan tidak kencang maka rotan akan melorot ke bawah dan si pemanen akan jatuh binasa.
Saking berbahayanya pekerjaan ini sampai-sampai almarhum Agustam Radin Priyayi pernah secara khusus berpesan pada anak cucunya supaya menjauhi dua pekerjaan yaitu memanen damar dan mengambil madu sialang.
Orang yang memanen biasanya bukan pemilik pohon damar, melainkan orang upahan yang telah berpengalaman.
Saat ini di Desa Kuripan hanya tersisa sedikit pohon damar, misalnya milik keluarga almarhum Khatib Cik Aman dan milik Haji Hatta.
Berkurangnya pohon damar di Tanah Haji disebabkan keterbatasan lahan pertanian sehingga pohonnya banyak yang ditebang karena akan diganti dengan tanaman lain seperti kopi atau tanaman palawija.
Walaupun getah damar banyak kegunaannya misalnya untuk campuran bahan korek api, vernis, cat, kosmetik, tinta dan plastik.
Tapi harga getah damar sangat murah dimana tahun 2014 harganya hanya Rp.8.000 perkilogram.


















