Nasional, Darah Juang Online — Isu transisi energi yang disampaikan dalam sosialisasi Sekolah Enegi bersih #2 mampu menggungah siswa SMAN 1 Kota Bengkulu untuk melakukan aksi-aksi menjaga bumi dari ancaman krisis iklim. Kegiatan ini dilakukan di ruang pertemuan sekolah pada tanggal 18 Juli 2023 selama 90 menit.
Isu transisi energi merupakan kabar baru dikalangan siswa SMA. Meskipun demikian sebanyak 72 orang siswa hadir dan antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Siswa aktif menuangkan ide-ide ke dalam gambar tentang kondisi bumi, berdiskusi serta serius menerima informasi yang dipaparkan oleh Kanopi Hijau Indonesia dan tim SMA Sint Carolus Bengkulu.
Siswa SMA 1 Kota Bengkulu juga menyatakan siap dan berkomitmen untuk terlibat dalam aksi penyadaran yang dilakukan oleh Sekolah Energi Bersih #2 selanjutnya.
Agnia Satria, siswa SMA 1 Kota Bengkulu mengatakan setelah mengikuti Sosialisasi Sekolah Energi Bersih ia tersadar bahwa sudah saatnya bergerak untuk menjaga lingkungan. Supaya bumi kita tetap asri dan terbebas dari kotornya polusi udara akibat aktivitas manusia.
“Sebagai anak muda kita harus berpatisipasi dalam kegiatan penyelamatan lingkungan, salah satunya adalah mengkuti kegiatan positif seperti Sekolah Energi Bersih dan memulai aksi sederhana dari diri sendiri. Misalnya hemat energi, membuang sampah pada tempatnya serta ikut serta menyuarakan penggunaan energi terbaharukan solusi alternatif dari buruknya energi batubara.” Imbuh Agnia. Kamis (20/7/23)
Isu transisi energi juga direspon baik oleh pihak SMAN 1 Kota Bengkulu, Drs. Sumarno selaku Wakil Kepala Sekolah Bidang Prestasi mengatakan kita harus mulai sadar bahwa penggunaan energi fosil buruk untuk lingkungan kita. Dalam praktiknya batubara hanya memberikan keuntungan komersil bagi segelintir orang sedangkan masyarakat adalah kelompok penerima dampak terbesar. Energi kotor batubara juga akan merugikan generasi masa depan karena terancam kehilangan ruang hidupnya, sudah saatnya fokus pada transisi energi.
“Kita tidak boleh terus menerus ketergantungan oleh batubara dan anak muda harus ambil peran untuk berpikir kreatif menciptakan energi dari sumber daya alam yang terbaharukan. ” Tegasnya.
Hosani Hutapea, Manager Anti Tambang/Juru kampanye Energi Kanopi Hijau Indonesia menambahkan bahwa kegiatan sosialisasi adalah bentuk edukasi publik terkhusus anak sekolah tentang krisis iklim yang mengancam semua orang untuk keselamatan kehidupan.
“Untuk mempercepat transisi energi kita butuh dukungan publik sebanyak mungkin. Tidak cukup hanya SMA Sint carolus dan SMAN 1 Bengkulu, tetapi juga sekolah-sekolah lainnya. Karena semakin banyak yang terlibat maka cita-cita transisi energi bersih untuk 0 emisi karbon di tahun 2060 dapat terwujud,” tegasnya.
Untuk memperluas dukungan publik, sekolah energi bersih #2 akan terus roadshow ke sekolah – sekolah yang di kota Bengkulu. Selain itu melakukan penyadaran publik, penggalangan dana publik dan terus melakukan kampanye secara online ataupun di ruang – ruang umum. (01)


















