Foto: Screen shot Video Istri Korban Sedang Video Call Dengan Diduga Oknum Polisi (Sumardi)
Bengkulu, Darah Juang Online – Entah apa yang merasuki perempuan ini. Ia tega menduakan suaminya yang sedang kerja membanting tulang membawa mobil ekspedisi lintas sumatera.
Tidak habis pikir, Ia membangun cinta terlarang dengan suami orang yang sudah memiliki anak. Hal ini dijelaskan oleh kepuanakannya kepada korban (Suami).
“Kepuanakan istri saya menjelaskan, Bahwa sudah lama istri saya menduakan saya. Sejak Tahun 2019,”. Kata Korban melalui laporan tertulisnya. (17/05/22).
Yang lebih menyedihkan baginya, saat anaknya membuka tabir cinta terlarang tersebut. Ia mengaku sangat kaget saat melihat bukti-bukti perselingkuhan itu.
“Setelah warga tempat saya tinggal, mendesak saya untuk mencari tahu soal ada laki-laki yang sering bermalam di rumah. Saya membujuk anak saya untuk menceritakan apa sebenarnya yang terjadi, Saya kaget melihat video dan chat mesra istri saya dengan laki-laki bajingan itu. Komunikasi dan video itu hanya pantas untuk suami dan istri,”. Jelasnya.
Istri pemeran cinta terlarang ASN.
Mengejutkan publik, ternyata pekerjaan perempuan menjalin hubungan terlarang dengan oknum yang diduga polisi itu adalah seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Taman Kanak-kanak (TK) Tais Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu.
“Yang pastinya dia ASN, Bapak konfirmasi saja dengan Kepalanya Sekolahnya. Namanya Dian Afriyani,”. Kata Korban.
Sementara itu, Kepala sekolah TK Pembina Tais, Gusti saat dikonfirmasi Darah Juang Online yang ingin memastikan Dian Afriani benar-benar ASN bertugas disekolahnya, langsung memblokir nomor wartawan.
Anak korban ikut dalam cinta terlarang dan putus sekolah.
Siapapun merasa akan tersayat hati jika buah hatinya dinodai laki-laki tidak bertanggung jawab. Hal ini dirasakan oleh korban saat dugaan cinta terlarang ini terungkap.
“Saya sangat terpukul, serasa tidak ada didunia ini lagi. Saat saya mengetahui, bukan cuma istri saya yang dinodai laki-laki bajingan itu. Anak gadis saya yang masih sekolah juga digaulinya selayaknya suami dan istri,”. Ungkapnya.
Kemudian ia juga mengatakan sangat lebih kecewa anak yang menjadi harapannya putus sekolah.
“Sebelum puasa istri dan anak saya minta uang untuk kepentingan sekolah anak saya. Saya kasih 8 juta, kemudian belum lama ini anak dan istri saya minta uang lagi untuk pindah sekolah, saya kasih lagi. Namun setelah kasus ini terungkap saya cek di sekolah tempat anak saya sekolah, ternyata anak saya sudah satu tahun tidak sekolah,”. Jelasnya sambil menangis.
HP dibanting, ini penjelasan istri korban.
Warga sekitar tempat korban tinggal geram melihat ulah cinta terlarang itu.
Tampaknya warga tempat saya tinggal sudah sangat marah dengan ulah oknum yang diduga polisi sering bermalam di rumah saya. Kata Korban dalam penjelasan tertulisnya.
“Begitu saya pulang dari Jakarta, warga langsung memanggil saya. Warga menanyakan mobil rush dengan BD 1729 AW terpakir sering bermalam di rumah saya. Mobil itu milik oknum polisi (Sumardi). Saya jelaskan dia (red) teman anak saya, seperti penjelasan anak dan istri saya. Tetapi, warga terus mendesak tidak mungkin anak saya bergaul dengan laki-laki yang jauh beda umur,”. Jelasnya lagi.
Lebih lanjut ia mengatakan, mendapat desakan warga. Ia tersulut emosi dan merebut hp milik anaknya lalu dibanting ke lantai.
“Saya terlanjur emosi, saya rebut hp anak saya lalu saya bantik ke lantai. Saat itu istri saya datang, lalu saya tanyakan kenapa membiarkan laki-laki sudah berumur sering bermalam dan bergaul dengan anak kami,”. Katanya kembali.
Selanjutnya, korban mengatakan istrinya terus meyakinkan alasannya membiarkan laki-laki itu sering bermalam dirumahnya.
“Istri saya terus meyakinkan saya dan warga. Bukannya membiarkan anaknya bergaul dengan oknum polisi tersebut, tetapi pelan-pelan ia menginginkan anaknya berpisah dengan laki-laki itu dengan sendirinya,”. Katanya lagi.
Mengulas informasi berita sebelumnya, oknum yang diduga warga polisi itu diketahui Sumardi. Ia diduga warga seorang polisi yang bertugas di Polsek Semidang Alas Maras Polres Seluma Polda Bengkulu. (01).

















